Aku dan Pena

Aku berjalan menyusuri hari dengan penaku...
Aku berlari menyongsong tahun dengan penaku...

Karena aku tidak abadi, namun goresan penaku akan bertahan sepanjang zaman.

-Sydel Manalu

Selasa, 07 Januari 2014

Romansa Anak Gang

"Dok.. aku sakit."
"Sakit? Sudah minum obat? Apa kamu sudah ke dokter?"
Aku tersenyum masam. Suara cemas itu membuat rinduku semakin menjadi-jadi. "Sakit sekali. Jantungku seperti dipelintir. Makan tak enak. Apa-apa tak enak. Mau mati saja rasanya."
"Apa kamu salah makan? Segera ke rumah sakit."
"Kamu tidak tanya, aku sakit apa?" aku balik bertanya.
"Sakit apa?"
"Mala rindu, tropis kangen. Obatnya tertinggal di Bandung. Sekarang aku harus bagaimana, dok?" rajukku dengan manja.
Terdengar tawa renyah Sam. Sangat merdu di telingaku. Kubayangkan wajahnya. Sekarang. Di balik kacamata kotaknya, mata sipit itu tampak seperti garis. Ia memutar kursi ke arah jendela, lalu membuka gorden lebar-lebar. Tersenyum simpul seraya menghela napas. Memandangi langit Bandung yang penuh polusi.
"Maaf, ya, Zi. Aku ingin sekali ikut ke sana," kata Sam lembut.
"Yah, tidak apa-apa. Habis dengar suaramu, aku merasa sedikit baikan. Bagaimana pasien pagi ini, dok?"
Pandanganku menerobos bangunan-bangunan rumah yang berderet rapi. 45­­­° menuju langit. Tampak menara oranye terang berdiri gagah. Dari tempatku, sepertinya lumayan jauh. Aku berjalan kaki menuju ke arah menara itu.
Lepas dari batas perumahan tempat tinggalku. Melewati perkampungan kecil, lalu keluar di sebuah jalan besar. Menengok ke kanan, tampak gerbang besar yang terbuka lebar. Dengan sebuah plang besar di depan bangunan dalam gerbang. Kecuali bagian dalam gedung, tempat ini terbuka untuk umum. Aku ingat, di sini aku belajar naik motor bersama teman-teman. Ah. Sudah berapa lama aku tidak bertemu teman-temanku?
Dulu. Aku dan teman-teman suka olahraga pagi di sini. Jam 4 pagi. Jalan-jalan sambil mencari sarapan. Pergi ke sawah. Menunggu kereta lewat. Kami tinggal dekat stasiun, tapi tidak pernah bosan melihat kereta api setiap hari.
"Aku ada di Pusri. Ingat, kan? Dekat rumah teman SMP-ku. Yang ada menaranya. Tadinya mau jogging, tapi aku bangun kesiangan."
"Aku ingat. Jalan besar yang dekat rel kereta itu, kan? Tidak pergi main sama teman-teman?" tanya Sam heran.
"Ada beberapa yang pulang ke Jatibarang juga. Tapi, aku ingin sendiri. Bertemu mereka, aku akan semakin bingung ambil keputusan."
"Ya sudah. Kamu puas-puasin jalan-jalan. Nanti kalau ada yang menarik, ceritakan padaku," katanya.
"Siap, dok!"
Matahari terik. Memang berbeda cuaca di Indramayu dan di Bandung. Di Bandung panas, panas matahari membakar polusi. Menyengat kulit. Di sini juga panas, tapi panas gerah. Mungkin karena kota kecil ini dekat dengan daerah pantai. Besok harus bangun lebih awal, agar sempat menikmati sejuknya angin di sawah.
"Mang..!" aku melambai pada seorang tukang becak yang lewat. Ia tersenyum. Membalas lambaianku dan bergegas datang.
***
Saat becak yang kutumpangi melewati pasar Jatibarang, aku mampir sebentar. Makan soto ayam dan es campur di depan toko mas depan pasar. Duh! Aku jadi kangen masa kecil dulu. Waktu keluargaku masih mengontrak rumah. Pulang sekolah jalan kaki. Lewat stasiun Jatibarang yang kebetulan bersebelahan dengan pasar. Aku suka mampir makan soto depan stasiun. Rasanya nyaris sama dengan soto yang kulahap tadi.
Akhirnya, kenangan soto ayam membawaku ke sini. Aku naik becak sampai sebuah gang dekat kantor Telkom. Ya. Di kota Mangga ini memang sudah banyak perumahan-perumahan BTN. Tapi, masih lebih banyak lagi pemukiman di gang-gang kecil. Bukan pemukiman kumuh! Sama sekali bukan. Hanya saja, ini berbeda dengan pemukiman gang yang sempit dan jorok seperti di kota-kota besar.
"Ning kene bae tah, Yayu-e?[1]" tanya tukang becak itu. "Masih adoh meng jero-e.[2]"
"Ning kene bae, Mang. Kesuwun[3], ya, Mang," jawabku kaku sambil memberi uang padanya. Beberapa tahun ini lidahku hanya dipenuhi bahasa Indonesia, Sunda dan Inggris, jadi terasa agak janggal memakai bahasa Jawa.
Dari jalan raya, aku putuskan masuk ke dalam gang dengan berjalan kaki. Tidak ada alasan khusus. Hanya ingin membuang waktu lebih banyak. Sudah banyak bangunan baru. Lebih modern dari yang terakhir kuingat. Tapi, letak-letaknya kurang lebih masih sama.
Jalan ini mungkin hanya muat dilalui sebuah mobil dan sebuah motor secara bersamaan. Tidak terlalu besar memang. Tapi jalan kecil di gang inilah yang kulalui setiap pagi, berangkat sekolah. Setiap siang, sepulang sekolah. Ini jalan yang kususuri. Berlarian. Bersepeda. Berbolangria dengan teman-teman.
"Sudah belasan tahun. Mungkin tidak ada lagi yang ingat aku," gumamku.
Orang-orang, khususnya anak-anak, tampak penasaran dengan kehadiranku. Penampilanku memang agak mencolok jika dibandingkan dengan mereka. Seharusnya aku memakai baju yang lebih sederhana. Meski begitu, mereka tetap ramah saat aku mampir di warung dan mengobrol sebentar di sana.
Setelah membeli minuman dingin, aku melanjutkan perjalanan. Mengikuti anak-anak kecil yang berlarian lebih jauh ke dalam gang. Laki-laki, perempuan. Kaya, miskin. Yang putih, yang hitam. Tidak ada batasan lagi.
"Tidak beda denganku. Ah, malah masa kecilku lebih ramai lagi dari ini," aku bergumam lagi. Lirih. Kali ini sambil tersenyum.
Aku sampai di tempat pemakaman umum. Terletak di kanan-kiri jalan. TPU ini memisahkan gang Jaya dan desa Karanganyar. Ya. Kuburan-kuburan Cina bertebaran ke mana mataku memandang. Dan kini, anak-anak tadi bermain riang di atas keramik-keramik tinggi yang menaungi rumah orang-orang mati itu.
Menengok ke sebelah kiri, rumah kontrakan yang dulu kutempati masih berdiri tegak. Dengan penampilan yang lebih bagus. Meskipun, masih tepat bersebelahan dengan area kuburan yang dipenuhi pohon-pohon liar.
"Kak Zizi!" suara itu membuatku menoleh.
Seorang, uhm, gadis? Berdiri di sebelah rumah lamaku. Rambutnya ikal. Kulitnya hitam manis. Ia jelas lebih muda dariku, tapi sudah menggendong bayi di punggungnya.
"Lupa, ya? Aku siapa coba?" ia tersenyum.
"Oh..! Lina, tah? Ya ampun, kamu, Lina? Itu siapa? Anakmu?" aku membelalak tak percaya.
Lina hanya tersenyum dan mengangguk. Yang benar saja! Anak ini masih sempat kugendong-gendong waktu dia kecil. Aku baru berencana menikah, dia malah sudah punya anak.
Ya ampun! Kalau tidak jadi TKI, sepertinya, orang di daerah ini lebih suka menikah muda. Suka atau memang sudah tradisi, ya? Hhh! Aku bersyukur, masih bisa makan bangku kuliah. Menepati janjiku pada almarhum Maman. Sahabatku.
"Yayu bari Aang ana ning umah?[4]"
"Lagi langka uwong[5]. Tapi mampirlah! Yuk!" ia menggandengku pergi.
Rumah Lina ada di belakang rumah lamaku. Tidak jauh berbeda dari ingatanku. Masih ada kandang kambing di belakang. Dan tentu saja, lengkap dengan ayam berkeliaran di mana-mana.
"Kalimantan? Jauh banget sih, Kak," katanya dengan logat Jawa yang kental. "Dua tahun itu lama banget, lho, Kak!"
"Mau bagaimana.. perusahaan yang mengirimku."
***
Cuaca cerah. Sama seperti kemarin. Di tempat yang sama seperti kemarin. Namun kali ini, aku ditemani segerombol anak-anak kecil. Dari yang masih berumur 5 tahun, sampai yang paling besar berumur 12 tahun. Kurasa, semua anak-anak gang Jaya sedang bersamaku saat ini.
Kami menyusuri gang. Melewati pekuburan. Sampai kuburan-kuburan mewah habis, berganti dengan kuburan-kuburan biasa yang penampilannya lebih sederhana. Jalan aspal pun sudah berganti menjadi tanah. Pohon kamboja menebar bunganya di seluruh penjuru. Diselingi bunga tahi ayam dan bunga kingkong. Mengantar kami sampai perbatasan antar desa.
"Yang rapi..! Awas yang cilik[6] ketinggalan!" Obe memberi komando pada teman-temannya. Ia adalah keponakan Lina. Anak kakak perempuannya, salah satu teman masa kecilku.
Sungguh bebas mereka ini! Tidak peduli berada di mana, ada saja alasan mereka untuk merasa gembira. Semua adalah petualangan untuk anak-anak ini. Tak ada lahan lapang, sawah dan kuburan pun dijadikan tempat bermain. Kolam renang umum jauh, kali Cimanuk pun tak masalah.
Anak-anak laki-laki. Dari yang kecil sampai yang paling besar. Mereka seperti kesetanan begitu kali Cimanuk yang keruh tampak di depan mata. Membuka pakaian di tempat. Langsung melompat ke dalam air. Tidak tahu kapan dicari, tahu-tahu ada saja yang sudah siap dengan gedebog[7] di tangan.
Sementara anak laki-laki berenang, aku dan anak-anak perempuan lainnya menyeberangi kali dengan perahu. Sebuah perahu tua besar sederhana yang dijalankan dengan cara manual. Kusebut manual, karena tidak memakai motor dan tidak pula memakai dayung. Ukurannya terlalu besar jika harus didayung. Jadi, tukang perahu menarik kawat baja yang terbentang dari ujung ke ujung kali. Dia menariknya dengan tangan. Manual, bukan? Benda ini satu-satunya transportasi untuk menyeberangi kali. Kecuali jika kita mau berenang, atau memutar lewat jembatan jalan raya.
"Bilang hai, sama Koko[8] Sam!" kuedarkan layar tabletku, agar Sam dapat melihat anak-anak.
"Hai, Koko Sam..!" sapa anak-anak sambil melambai riang.
"Hai, semuanya!"
"Udah makan siang, dok?" tanyaku.
"Barusan selesai. Kamu udah makan siang?"
"Belum. Dari tadi jajan mulu sama anak-anak, jadinya nggak lapar. Eh, lihat! Pernah naik perahu ginian, nggak? Di Bandung mana ada yang gini! Adanya perahu karet buat arung jeram, hehe.."
"Asyik banget kayaknya. Itu di sungai apa?"
"Ini kali Cimanuk. Keruh, ya? Kuning. Tapi kan nggak sejorok sungai Cikapundung. Meski sama-sama suka luber, hahaha!" aku tergelak sendiri, mengingat kali Cimanuk ini juga suka jadi biang kerok. Alias sering banjir.
"Eh, Zi! Lagi musim mangga nggak di sana? Mau dong. Pulang bawa yang banyak, ya…"
"Wokey, dok! Mangga, dodol, terasi.. apa lagi, ya? Semua tak bawakan deh! Sekalian ntar tak gotong alun-alun Indramayu! Dok, udah dapat panggilan, tuh," aku menunjuk seorang suster yang berdiri di ambang pintu ruangannya. "Ntar kita lanjutin lagi. Selamat kerja, ya, sayang!"
"Ya udah. Sampai nanti, ya, sayang." Sam memutuskan sambungan.
"Cieeee…" sorak anak-anak.
"Hush!! Jangan sirik, deh!" kataku sambil mengerling centil.
Mereka semua tertawa.
"Eh-eh-eh! Besok sore, mau pada ikut jalan-jalan, nggak? Kita main ke Banjar, yuk!" kataku bersemangat.
"Ngapain, Kak? Ndeleng keték[9]?" tanya seorang anak perempuan yang duduk di sampingku. Mereka memanggilku kakak. Karena sudah diberitahu, aku ini orang Batak tulen.
"Nggak ada pasar malam, tah?"
"Pasar malam adanya pas libur panjang aja, Kak. Pas Rayaan, Natalan,[10]" jelasnya.
"Oh iya! Kakak lupa, udah lama nggak ke sana soalnya. Hmm! Ke pantai, gimana? Kita ke Tirtamaya, atau Eretan? Hm? Gratis deh.. pake mobilku. Kalau nggak muat, tak sewakan angkot aja. Gimana?"
Lagi-lagi mereka bersorak girang.
Betapa tulusnya kebahagiaan anak-anak ini. Dalam kepolosan mereka. Kesederhanaan mereka. Seolah tidak ada beban. Padahal, beberapa mungkin tak punya ibu di rumah. Bukan yatim, hanya ibunya berangkat jadi TKW. Beberapa lagi mungkin ayahnya hanya tukang becak. Atau mungkin petani kacang. Yang saat musim hujan, saat kali Cimanuk meluap oleh banjir kiriman, kerja kerasnya ludes sekejap mata.
Aku merasa berdosa jika harus merasa sedih saat berada di tengah-tengah tawa anak-anak ini. Bertanya-tanya pada diri, kenapa tepatnya antusiasku hilang.
Seperti janjiku pada Maman. Aku tidak mengikuti langkahnya jadi TKI. Menjauh dari kemungkinan, mati jadi babu di negeri orang. Menjauh dari kemungkinan, pulang-pulang hamil anak majikan. Seperti yang Maman alami. Seperti yang ibu Maman alami. Aku mengejar cita-cita kami. Dan kini aku berjalan di dalamnya.
Tapi, benarkah aku sudah mencapai cita-citaku? Tidak! Cita-citaku belum penuh. Masih panjang. Masih jauh. Dan kalau sudah dapat, masih ada segudang lagi untuk kutuju. Tapi kenapa harus Kalimantan? Jauh dari kampung orangtuaku di Sumatera. Lebih jauh lagi dari tempatku dibesarkan ini.
***
Umurku baru menginjak 24 tahun beberapa minggu yang lalu. Jika orangtuaku masih hidup, pasti mereka sudah mengomel supaya aku cepat-cepat nikah. Ahh. Senangnya jika masih punya orang tua. Akan ada alasanku untuk menolak dipindahkan ke Kalimantan. Ada yang melarang. Aku pasti tidak akan pergi, bahkan jika aku harus keluar dari kantor.
Aku melihat-lihat hasil foto jepretanku sejak kemarin. Teduh sekali melihat senyuman bibir-bibir kecil itu. Mungkin karena mereka mengingatkan, bagaimana masa kecilku. Ya. Aku juga anak gang. Tumbuh dalam petualangan-petualangan tanpa batas. Berkelana ke sana-ke mari. Mengelilingi seluk-beluk kota mangga, Indramayu.
Aku melakukannya saat kakiku belum sepanjang ini. Saat pengetahuanku belum sampai ke ibu kota Jawa Barat. Saat keingintahuan lebih besar dari rasa takut dimarahi mama. Saat keberanian lebih tebal dari uang jajan di saku.
"Ya. Aku anak gang. Tak ada yang perlu kutakutkan. Bukankah di Kalimantan, petualangan baru sedang menantiku? Sebagai bonus, aku sekalian bekerja dan dapat gaji..!" aku bicara keras-keras di dalam kamar. Maksud hati ingin menghibur diri.
Cita-cita kuraih. Karir kuraih. Tapi bagaimana dengan Sam? Aku percaya padanya, tapi tak percaya pada maminya. Mami Sam tidak akan menunggu 2 tahun untuk mencarikan penggantiku. Ahh! Lagi-lagi aku iri pada gadis-gadis berayah-ibu di luar sana. Kalau bukan diri sendiri, siapa lagi yang akan membela dan menjaga tempatku?
Ponselku berbunyi. Tampak foto Sam menghiasi layarnya.
"Belum tidur, Zi?" tanyanya lembut.
"Kamu sih, nelepon! Habis ini aku akan makin susah tidur, gara-gara memikirkanmu terus!" omelku. Aku menghela napas dalam-dalam. Sambil menekuri motif bunga di wallpaper kamarku.
"Zi.. aku tahu, kamu mencintai pekerjaan ini. Sama seperti aku mencintai pekerjaanku. Ini adalah mimpimu. Kebanggaanmu!"
"Dok.. apa kamu akan menungguku?"
"Kau layak untuk kutunggu, Zi."
"Dok.. apa kamu akan merindukanku?
"Kau layak untuk kurindukan."
"Kenapa juga aku harus pacaran dengan seorang dokter?! Kalau bukan aku yang pindah, pasti kamu! Aku sudah salah memilih pacar," isakku meledak juga akhirnya. "Payahnya, sudah kuberikan semua hatiku. Karena aku tak ada tempat lagi untuk berbagi sayang."
Hening. Mungkin Sam menunggu aku selesai menangis.
"Setelah ini, aku pensiun jadi anak gang. Aku akan jadi anak hutan."
"Jangan nangis lagi. Nanti matamu bengkak. Bukankah besok mau jalan sama anak-anak gang Jaya?" Sam mengingatkan.
"Mm," aku mengangguk. Seolah pemuda itu dapat melihat anggukanku.
"Hari Sabtu dan Minggu nanti jadwalku kosong. Sisakan tenagamu untuk membawaku jalan-jalan, ya.."
"Benarkah?? Hmm, bagaimana kalau ke alun-alun? Kita makan nasi Jamblang! Habis itu.. mampir ke pabrik dodol. Kamu suka dodol mangga, kan? kita juga harus ke—"
Sesaat saja aku sudah lupa kegelisahanku. Hanya dengan memikirkan, petualangan apa yang akan kulakukan bersama Sam. Yeah. Ke mana pun aku pergi, aku akan baik-baik saja. Selama aku melakukannya dengan sukacita. Seperti yang seharusnya kulakukan.

Catatan : Seharusnya cerpen ini untuk #KampusFiksiEmas (ada foto-foto settingnya, kapan-kapan kuposting), tapi yaaa.. gara-gara nilaiku yang babalatak, akhirnya nggak dapat izin ke Yogyakarta (padahal, belom tentu lolos walaupun dikirim juga, kan..? Hiks..)



[1] Di sini saja, mbak?
[2] Masih jauh ke dalam.
[3] Terima kasih
[4] Kakak dan Abang ada di rumah?
[5] Sedang tidak ada orang.
[6] Kecil
[7] Batang pohon pisang
[8] Panggilan abang untuk suku Tionghoa
[9] Lihat monyet?
[10] Saat Lebaran, Natal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar