“Aku masih ingin di
sini, Ma. Papa bilang, malam di Wakatobi tak kalah cantik dengan siangnya,”
jawabku tanpa menoleh.
Bening birunya laut memang
sudah menghitam. Surya telah sembunyi di balik awan-awan senja yang tipis.
Membias keemasan dan merah di ambang lengkung langit. Cahayanya yang sepi
menuturkan sendu. Namun di saat yang sama, kepolosannya menyiluetkan ketegaran.
Pantai Wakatobi membuka malam Natal tahun ini dengan senyum lembutnya.
Mama menyampirkan
jaket di pundakku. “Jangan pergi jauh-jauh. Jam 11 kita berangkat kebaktian
malam Natal,” katanya sambil memelukku sekilas.
Perhatianku terpaku
pada garis-garis ombak yang putih. Saling berlomba. Menghempas diri ke
batu-batu besar dan membuat paduan suara. Seperti kidung anak-anak kecil yang
ceria.
“Pernahkah kamu
mendengar laut bernyanyi?” suara itu mengiang dalam pikiranku. Bergema sampai
ke telinga. Sangat jelas.
Kututup mata.
Bersandar nyaman pada kokohnya pohon kelapa. Kudengarkan lagi orkes laut di
hadapanku. Batu, angin dan ombak bersimfoni dengan harmonis.
“Kalau hanya mau
dengar suara ombak, ke Ancol juga bisa!” kali ini kudengar suaraku. Menyentak.
Merajuk. Tak mau tahu, yang kuajak bicara saat itu adalah papaku sendiri.
Papa memelukku.
Membisikkan maaf. Lirih. Hampir tertelan oleh sengguk yang tak habisnya keluar
dari mulutku.
“Papa tidak bisa berbuat
apa-apa soal kepindahan kita ke Sulawesi. Tapi, Papa janji, Natal tahun ini..
Papa akan berikan hadiah yang bagus!”
“Aku tahu Wakatobi itu
indah. Sudah sering lihat kok, dari foto-foto yang dikirim Nenek,” komentarku
sambil menghapus sisa-sisa air mata di pipi.
Papa menggeleng, “Kamu
pasti suka. Papa janji.”
Apa aku tertidur? Aku
tidak yakin. Menit demi menit. Jam demi jam. Berlalu begitu cepat. Angin tidak
membuatku merasa dingin. Aku hanya diam. Begitu tenang. Ditemani kidung laut
Wakatobi. Dan sekarang sudah hampir jam 10.
Kalau saja papa tidak
kecelakaan di tempat kerjanya. Kalau saja kami pindah ke sini lebih cepat.
Kalau saja. Pasti papa ada di sini. Mendengarkan nyanyian laut bersamaku.
“Selamat Natal, Papa. Ini
hadiah Natal paling keren di seluruh dunia. Aku sangat suka. Terima kasih, Pa…”
Dibuat untuk tantangan menulis cerpen
#KabarNatal @KampusFiksi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar