Ervan asyik main game di
laptop sambil mendengarkan curhatan teman-temannya. Sesekali ia menyahut dan
mengangguk untuk memberi tanggapan. Ia dan teman-temannya, Andre, Sutha dan
Derry duduk mengelilingi meja sambil menunggu pesanan makanan mereka datang.
“Cewek gue nyebelin banget. Dikit-dikit cemburu.. dikit-dikit ngambek!
Satu aja udah repot, mana berani punya dua!” Sutha menggerutu.
“Cewek gue juga. Sampe periksa-periksa hape segala. Kan nggak ada
salahnya kalau punya temen cewek? Bukan berarti selingkuh..!” Andre ikut-ikutan.
“Kalau cewek gue sih nggak gitu. Asal gue nggak lupa ulang tahunnya sama
hari jadian kami, nggak ada masalah.” Derry tersenyum bangga.
“Alahhh..! Tapi cewek lo bikin kantong lo kempes mulu, kan? Kalau lo nggak
ada duit, dia nggak perlu khawatir lo macem-macem. hahaha…,” cemooh Sutha. Yang
lain ikut tertawa.
Andre melirik Ervan yang masih asyik sendiri dengan laptopnya. “Kayaknya
yang paling santai cuma lo, Van! Cantik. Artis. Nggak cemburuan. Nggak banyak
nuntut. Coba cewek gue kayak Sheromitha, hidup gue pasti damai sentosa!” katanya
berapi-api.
“Kalau lo, pernah cemburu nggak sama Shero? Ya.. secara, hubungan kalian
cuma kita-kita doang yang tahu. Dia kan penyanyi top. Deket sama artis-artis
cowok. Dan pasti, penggemar cowoknya juga banyak,” Derry ikut penasaran.
Eran berpikir sejenak. Dengan santai berkata, “Nggak juga. Biasa aja.”
“Asyik banget gaya pacaran kalian! Nggak pernah berantem. Nggak pernah
ribut. Adem ayem terus…,” kata Andre iri. Ervan hanya tersenyum simpul.
“Dia pasti nggak tahu kalau lo juga punya banyak fans cewek di sekolah. Kalau tahu, mana mungkin bisa kalem,” sambung
Sutha.
Ervan mengerutkan keningnya. Shero tahu. Tapi cewek satu itu memang
sedikit, uhm, berbeda. Shero bukan
tipe kepo. Bukan tipe tukang ngambek yang penuntut, apalagi pencemburu. Kadang,
ia merasa gaya pacaran mereka ‘gaya punggung-punggungan’. Cuek. Bukan adem
ayem.
Seperti Sabtu lalu. Mereka sedang makan pecel ayam kesukaan Shero.
“Valentine nanti, ada prom di
sekolah.”
“Gue kayaknya nggak bisa dateng,” kata Shero menyesal.
“Sebenernya ada temen ngajakin bareng. Neta. Kenal, kan?”
“Ketua OSIS itu? Hm. Jangan-jangan dia naksir sama lo..?!” canda Shero. Ervan
menghela napas. Ia tidak punya ide sama sekali, bagaimana membuat ceweknya ini
cemburu, apalagi marah.
Apakah ini berkah? Ia tidak terlalu yakin. Shero tidak pernah
semerepotkan ‘pacar normal’ lainnya. Tidak manja. Tidak ngambek. Tidak ribet. Dan
tidak cemburuan.
Ervan seperti itu juga. Walau agak terpaksa. Manja bukan gayanya. Meski
ingin, memalukan bila harus keluar dari karakternya sendiri. Ngambek hanya
menunjukkan ketidakdewasaan. Dan cemburu? Kadang. Tapi ia tidak suka
mengakuinya.
“Ngelamunin apa sih? Serius banget mukanya.”
“Sebenernya kita pacaran nggak sih?” tanya Ervan heran.
“Hah?!” Shero mengernyit. Tidak mengerti
“Hubungan kita tuh aneh! Kalau pacar temen-temen gue tuh ya, ceweknya
selalu marah-marah. Minta ditemenin ke sana-sini. Minta ditelepon tiap jam.
Nggak boleh ini. Nggak boleh itu. Harus ini. Harus itu. Lo kok nggak begitu?”
Shero tertawa. Sampai terbatuk-batuk. “Trus.. lo mau begitu? Kalau gue
ada show, harus dianterin. Kalau lagi
nggak bisa ketemu, pulsa lo habis buat nelepon. Dan kalau lagi marahan, duit
jajan lo habis buat beliin hadiah. Maunya begitu?” ia balik bertanya.
“Ya, enggak sih.. Tapi semua yang lo sebutin, dulu lo ke Jason juga
begitu, kan?” Ervan teringat sepupunya yang juga mantan pacar Shero.
“Ia ya? Mungkin gaya pacaran anak SMA emang begitu kali. Oh iya, gue
lupa! Lo kan masih SMA, ya?” godanya.
Ervan tidak menjawab. Ia kesal. Secara tidak langsung, Shero mengatakan
bahwa ia seperti anak SMA. Meski kenyataannya memang begitu.
“Jangan marah. Bukan begitu. Kalau dulu, sama Jason, gue suka minta
aneh-aneh biasanya buat iseng doang. Cuma mastiin dia nurut. Sama lo sih, bingung
mau minta apaan…”
“Kenapa bingung?”
“Kalau Jason kan udah kerja, beda. Gue nggak mau, lo ngabisin duit buat
hal-hal yang nggak perlu. Lagi pula gue bukan orang yang suka marah-marah. Jadi,
mau marah juga susah. Emang kenapa sih?” Shero penasaran.
“Habis, setiap temen-temen cerita, ada aja masalahnya. Kita kayaknya nggak
pernah ada masalah apa-apa.”
“Jadi, cowok-cowok doyan ngegosipin cewek juga, ya? Paling juga mereka
suka jelalatan. Makanya, pacar mereka pada nggak percaya. Tapi gue nggak
nyangka lho.. lo bisa juga punya pikiran konyol begitu.” Shero tertawa lagi.
“Ngelamunin apa sih? Serius banget mukanya,” suara Shero membawanya ke
alam nyata. Ervan terkesiap, rupanya ia baru saja melamun.
“Nggak pa-pa kok,” katanya bohong. Ia tidak ingin menceritakan yang
sebenarnya. Bisa-bisa Shero menertawakannya. Seperti dalam lamunannya tadi.
“Uhm.. ngomong-ngomong, gue baru balik pertengahan Maret.”
“Hah?? Tapi.. ulang tahun..?”
“Nggak pa-pa, kan? Soalnya ada kerjaan,” Shero menatapnya lekat. Ervan
merasa tidak berdaya jika sudah berhadapan dengan tatapan ini.
“Ya udah deh, lagian juga nggak dirayain.”
***
10 Maret. Ulang tahun Ervan yang ke 16.
Tengah malam. Ervan menerima telepon dari mamanya. Pagi-pagi. Teman-teman
mengerubunginya. Mengucapkan selamat ulang tahun. Tidak ada pesan dari Shero. Ervan
sudah menerima hadiahnya sebelum Shero berangkat ke Singapura. Tapi sedikit
banyak, ia berharap Shero menghubunginya lagi. Saat bel istirahat berbunyi,
rasanya sudah berabad-abad ia terjebak dalam ruangan kotak itu.
“Ervan, undang-undang kita dong..! So,
jam berapa pesta hari ini?”
Ervan mendongak. Sekitar 4 atau 5 murid cewek kini mengelilinginya. “Nggak
ada pesta-pesta! Rumah gue lagi direnovasi!” katanya ketus.
“Hoy! Semua! Makan sepuasnya, Ervan yang traktir!!”
Ervan menoleh ke arah suara itu. Andre, Sutha dan Derry terkekeh melihat
segerombolan orang menyerbu ibu kantin.
“Sialan lo semua!” Ervan menyedot habis es teh manisnya.
“Lo dapet apa dari Shero?” Sutha penasaran, yang lain ikut mendekat.
“Sepatu olahraga.”
“Trus??” tanya mereka hampir serempak.
“Ya.. sepatu olahraga.”
Mereka bertiga mendesah tidak puas. Ervan mengernyit tidak mengerti.
“Nggak asyik! Kayak anak kecil aja, dikasih sepatu,” komentar Andre.
“Yeah, mungkin dia nganggep lo anak kecil. Kirain, kalau punya pacar
anak kuliahan, dikasih apa gitu…,” Sutha setuju.
“Emang kenapa? Kalian belum lihat sepatunya. Jangan komentar dulu.”
“Sepatu ya sepatu. Cuma sepatu! Emang sohib kita yang satu ini masih
kecil. Badan lo doang gede!” Derry tertawa diikuti kedua temannya.
***
Sepulang sekolah, dengan langkah gontai Ervan masuk ke kamarnya. Ia
berbaring malas-malasan, menikmati sepinya hari. Seandainya Shero di sini.
Ervan mengingat-ingat, apa tepatnya yang membuatnya jatuh hati pada
cewek itu. Bukan karena dia penyanyi. Ervan bukan fanatik musik. Bukan karena
dia kalem. Sejak dulu, Shero tipe cewek yang suka iseng. Jauh dari kalem, apalagi
lemah lembut. Jadi apa?
“Gue sama bokap suka makan siang di sini, jadi dia bisa langsung balik
ke kantor. Di sebelah,” kata Shero. Cewek itu memang dekat sekali dengan
papanya.
“Ini ruangan lo sendiri?” Ervan takjub melihat lemari-lemari kaca berisi
piala-piala penghargaan.
Sheromitha menariknya ke balkon. Tempat itu bisa dibilang kosong. Hanya
ada dua kursi menghadap keluar dengan meja kecil di antaranya.
“Tunggu sebentar.” Shero meninggalkannya ke dalam.
Ervan melihat-lihat pemandangan sekitar dengan kekeran di meja. Ia bisa
melihat gedung sebelah hampir kosong. Jam kantor memang sudah lama berakhir.
Didengarnya suara pintu kaca bergeser membuka dan menutup lagi.
“Kalau ada taman.. pasti bagus.”
“Udah laper, kan? Sini…,” Shero membuka rantang yang dibawanya.
“Wah.. masak sendiri?”
“Enggak. Masakan mama. Aku rampok, hihi..!” katanya sambil terkikik geli.
Ervan tidak mengerti. Mereka tidak makan di restoran mewah. Tidak
dikelilingi lilin-lilin. Tidak juga berada di bawah taburan bintang, mengingat
malam itu langit polos berwarna hitam. Tidak ada iringan musik. Tidak ada acara
suap-suapan juga. Tapi rasanya begitu menyenangkan.
Hanya diam berdua bersama Sheromitha membuatnya bahagia. Shero tentu sibuk,
namun ia selalu meluangkan waktu untuknya. Dan Shero tentu lelah, namun ia
selalu tersenyum. Tidak pernah mengeluh. Ia melakukan hal-hal kecil untuk
menunjukkan perhatiannya. Sederhana, namun berarti banyak.
Suara ketukan di pintu kamar membawa Ervan kembali ke masa kini. Pembantu
rumahnya masuk membawa kotak setengah ukuran bantal kepala. Ia menaruhnya di
atas tempat tidur di samping Ervan.
“Apaan nih? Dari Mama?” Ervan bangun dan membuka kotak itu. Isinya kue
tart.
“Bukan. Maaf, Den. Mestinya ini
dikasih semalem, tapi Bibik lupa ngambil di toko. Baru tadi pagi diambil, Aden udah berangkat sekolah duluan.”
“Bukan dari Mama, masa dari Papa sih?” kening Ervan berkerut.
“Ini dari Non Shero. Waktu itu, Non pesen supaya dikasih jam 12 malem. Tapi
ya, Bibik lupa. Maaf ya, Den..”
“Dari Shero?! Hm.. ya udah, Bik. Bibik boleh keluar. Udah aku maafin
kok,” katanya dengan senyum lebar.
“Makasih, Den.. kalau gitu Bibik permisi.”
Ervan mengeluarkan kue dari kotak. Ada amplop menempel di bawah tutupnya.
Diambil dan dibukanya.
Tulisan Sheromitha meliuk-liuk dengan indah di atas kertas warna biru
langit. Tercium aroma parfum yang familiar. Rasanya, ada Sheromitha di
hadapannya.
Ervan…
Sekarang, aku pasti lagi di panggung. Mungkin
nggak akan megang hape sampai beberapa jam ke depan. Nggak ngaruh sih.. meskipun
pegang hape. Pulsa aku nggak akan sanggup bertahan lebih dari satu menit
kalaupun mau nelepon. Soalnya masih dihukum mama. Gara-gara jebol pulsa bulan
lalu. Hehehe…
Selamat ulang tahun ya.... Semoga kamu suka
kuenya. By the way, sukses untuk pertandingan basketnya..! Semoga sepatunya
bawa keberuntungan.
Love,
Sheromitha
NB : Jatah first cake-nya aku tagih tahun depan
aja. Jadi, nanti aku dapat 2 potong. Ok.. ^^
“Oke,” Ervan tersenyum memandangi
tanda hati di surat itu.
Catatan : Cerpen ini meloloskan aku ke Kampus Fiksi yang diadakan angkatan @divapress
Tidak ada komentar:
Posting Komentar