Aku dan Pena

Aku berjalan menyusuri hari dengan penaku...
Aku berlari menyongsong tahun dengan penaku...

Karena aku tidak abadi, namun goresan penaku akan bertahan sepanjang zaman.

-Sydel Manalu

Senin, 06 Januari 2014

Pacar -Nggak- Cemburuan

Ervan asyik main game di laptop sambil mendengarkan curhatan teman-temannya. Sesekali ia menyahut dan mengangguk untuk memberi tanggapan. Ia dan teman-temannya, Andre, Sutha dan Derry duduk mengelilingi meja sambil menunggu pesanan makanan mereka datang.
“Cewek gue nyebelin banget. Dikit-dikit cemburu.. dikit-dikit ngambek! Satu aja udah repot, mana berani punya dua!” Sutha menggerutu.
“Cewek gue juga. Sampe periksa-periksa hape segala. Kan nggak ada salahnya kalau punya temen cewek? Bukan berarti selingkuh..!” Andre ikut-ikutan.
“Kalau cewek gue sih nggak gitu. Asal gue nggak lupa ulang tahunnya sama hari jadian kami, nggak ada masalah.” Derry tersenyum bangga.
“Alahhh..! Tapi cewek lo bikin kantong lo kempes mulu, kan? Kalau lo nggak ada duit, dia nggak perlu khawatir lo macem-macem. hahaha…,” cemooh Sutha. Yang lain ikut tertawa.
Andre melirik Ervan yang masih asyik sendiri dengan laptopnya. “Kayaknya yang paling santai cuma lo, Van! Cantik. Artis. Nggak cemburuan. Nggak banyak nuntut. Coba cewek gue kayak Sheromitha, hidup gue pasti damai sentosa!” katanya berapi-api.
“Kalau lo, pernah cemburu nggak sama Shero? Ya.. secara, hubungan kalian cuma kita-kita doang yang tahu. Dia kan penyanyi top. Deket sama artis-artis cowok. Dan pasti, penggemar cowoknya juga banyak,” Derry ikut penasaran.
Eran berpikir sejenak. Dengan santai berkata, “Nggak juga. Biasa aja.”
“Asyik banget gaya pacaran kalian! Nggak pernah berantem. Nggak pernah ribut. Adem ayem terus…,” kata Andre iri. Ervan hanya tersenyum simpul.
“Dia pasti nggak tahu kalau lo juga punya banyak fans cewek di sekolah. Kalau tahu, mana mungkin bisa kalem,” sambung Sutha.
Ervan mengerutkan keningnya. Shero tahu. Tapi cewek satu itu memang sedikit, uhm, berbeda. Shero bukan tipe kepo. Bukan tipe tukang ngambek yang penuntut, apalagi pencemburu. Kadang, ia merasa gaya pacaran mereka ‘gaya punggung-punggungan’. Cuek. Bukan adem ayem.
Seperti Sabtu lalu. Mereka sedang makan pecel ayam kesukaan Shero.
“Valentine nanti, ada prom di sekolah.”
“Gue kayaknya nggak bisa dateng,” kata Shero menyesal.
“Sebenernya ada temen ngajakin bareng. Neta. Kenal, kan?”
“Ketua OSIS itu? Hm. Jangan-jangan dia naksir sama lo..?!” canda Shero. Ervan menghela napas. Ia tidak punya ide sama sekali, bagaimana membuat ceweknya ini cemburu, apalagi marah.
Apakah ini berkah? Ia tidak terlalu yakin. Shero tidak pernah semerepotkan ‘pacar normal’ lainnya. Tidak manja. Tidak ngambek. Tidak ribet. Dan tidak cemburuan.
Ervan seperti itu juga. Walau agak terpaksa. Manja bukan gayanya. Meski ingin, memalukan bila harus keluar dari karakternya sendiri. Ngambek hanya menunjukkan ketidakdewasaan. Dan cemburu? Kadang. Tapi ia tidak suka mengakuinya.
“Ngelamunin apa sih? Serius banget mukanya.”
“Sebenernya kita pacaran nggak sih?” tanya Ervan heran.
“Hah?!” Shero mengernyit. Tidak mengerti
“Hubungan kita tuh aneh! Kalau pacar temen-temen gue tuh ya, ceweknya selalu marah-marah. Minta ditemenin ke sana-sini. Minta ditelepon tiap jam. Nggak boleh ini. Nggak boleh itu. Harus ini. Harus itu. Lo kok nggak begitu?”
Shero tertawa. Sampai terbatuk-batuk. “Trus.. lo mau begitu? Kalau gue ada show, harus dianterin. Kalau lagi nggak bisa ketemu, pulsa lo habis buat nelepon. Dan kalau lagi marahan, duit jajan lo habis buat beliin hadiah. Maunya begitu?” ia balik bertanya.
“Ya, enggak sih.. Tapi semua yang lo sebutin, dulu lo ke Jason juga begitu, kan?” Ervan teringat sepupunya yang juga mantan pacar Shero.
“Ia ya? Mungkin gaya pacaran anak SMA emang begitu kali. Oh iya, gue lupa! Lo kan masih SMA, ya?” godanya.
Ervan tidak menjawab. Ia kesal. Secara tidak langsung, Shero mengatakan bahwa ia seperti anak SMA. Meski kenyataannya memang begitu.
“Jangan marah. Bukan begitu. Kalau dulu, sama Jason, gue suka minta aneh-aneh biasanya buat iseng doang. Cuma mastiin dia nurut. Sama lo sih, bingung mau minta apaan…”
“Kenapa bingung?”
“Kalau Jason kan udah kerja, beda. Gue nggak mau, lo ngabisin duit buat hal-hal yang nggak perlu. Lagi pula gue bukan orang yang suka marah-marah. Jadi, mau marah juga susah. Emang kenapa sih?” Shero penasaran.
“Habis, setiap temen-temen cerita, ada aja masalahnya. Kita kayaknya nggak pernah ada masalah apa-apa.”
“Jadi, cowok-cowok doyan ngegosipin cewek juga, ya? Paling juga mereka suka jelalatan. Makanya, pacar mereka pada nggak percaya. Tapi gue nggak nyangka lho.. lo bisa juga punya pikiran konyol begitu.” Shero tertawa lagi.
“Ngelamunin apa sih? Serius banget mukanya,” suara Shero membawanya ke alam nyata. Ervan terkesiap, rupanya ia baru saja melamun.
“Nggak pa-pa kok,” katanya bohong. Ia tidak ingin menceritakan yang sebenarnya. Bisa-bisa Shero menertawakannya. Seperti dalam lamunannya tadi.
“Uhm.. ngomong-ngomong, gue baru balik pertengahan Maret.”
“Hah?? Tapi.. ulang tahun..?”
“Nggak pa-pa, kan? Soalnya ada kerjaan,” Shero menatapnya lekat. Ervan merasa tidak berdaya jika sudah berhadapan dengan tatapan ini.
“Ya udah deh, lagian juga nggak dirayain.”
***
10 Maret. Ulang tahun Ervan yang ke 16.
Tengah malam. Ervan menerima telepon dari mamanya. Pagi-pagi. Teman-teman mengerubunginya. Mengucapkan selamat ulang tahun. Tidak ada pesan dari Shero. Ervan sudah menerima hadiahnya sebelum Shero berangkat ke Singapura. Tapi sedikit banyak, ia berharap Shero menghubunginya lagi. Saat bel istirahat berbunyi, rasanya sudah berabad-abad ia terjebak dalam ruangan kotak itu.
“Ervan, undang-undang kita dong..! So, jam berapa pesta hari ini?”
Ervan mendongak. Sekitar 4 atau 5 murid cewek kini mengelilinginya. “Nggak ada pesta-pesta! Rumah gue lagi direnovasi!” katanya ketus.
“Hoy! Semua! Makan sepuasnya, Ervan yang traktir!!”
Ervan menoleh ke arah suara itu. Andre, Sutha dan Derry terkekeh melihat segerombolan orang menyerbu ibu kantin.
“Sialan lo semua!” Ervan menyedot habis es teh manisnya.
“Lo dapet apa dari Shero?” Sutha penasaran, yang lain ikut mendekat.
“Sepatu olahraga.”
“Trus??” tanya mereka hampir serempak.
“Ya.. sepatu olahraga.”
Mereka bertiga mendesah tidak puas. Ervan mengernyit tidak mengerti.
“Nggak asyik! Kayak anak kecil aja, dikasih sepatu,” komentar Andre.
“Yeah, mungkin dia nganggep lo anak kecil. Kirain, kalau punya pacar anak kuliahan, dikasih apa gitu…,” Sutha setuju.
“Emang kenapa? Kalian belum lihat sepatunya. Jangan komentar dulu.”
“Sepatu ya sepatu. Cuma sepatu! Emang sohib kita yang satu ini masih kecil. Badan lo doang gede!” Derry tertawa diikuti kedua temannya.
***
Sepulang sekolah, dengan langkah gontai Ervan masuk ke kamarnya. Ia berbaring malas-malasan, menikmati sepinya hari. Seandainya Shero di sini.
Ervan mengingat-ingat, apa tepatnya yang membuatnya jatuh hati pada cewek itu. Bukan karena dia penyanyi. Ervan bukan fanatik musik. Bukan karena dia kalem. Sejak dulu, Shero tipe cewek yang suka iseng. Jauh dari kalem, apalagi lemah lembut. Jadi apa?
“Gue sama bokap suka makan siang di sini, jadi dia bisa langsung balik ke kantor. Di sebelah,” kata Shero. Cewek itu memang dekat sekali dengan papanya.
“Ini ruangan lo sendiri?” Ervan takjub melihat lemari-lemari kaca berisi piala-piala penghargaan.
Sheromitha menariknya ke balkon. Tempat itu bisa dibilang kosong. Hanya ada dua kursi menghadap keluar dengan meja kecil di antaranya.
“Tunggu sebentar.” Shero meninggalkannya ke dalam.
Ervan melihat-lihat pemandangan sekitar dengan kekeran di meja. Ia bisa melihat gedung sebelah hampir kosong. Jam kantor memang sudah lama berakhir. Didengarnya suara pintu kaca bergeser membuka dan menutup lagi.
“Kalau ada taman.. pasti bagus.”
“Udah laper, kan? Sini…,” Shero membuka rantang yang dibawanya.
“Wah.. masak sendiri?”
“Enggak. Masakan mama. Aku rampok, hihi..!” katanya sambil terkikik geli.
Ervan tidak mengerti. Mereka tidak makan di restoran mewah. Tidak dikelilingi lilin-lilin. Tidak juga berada di bawah taburan bintang, mengingat malam itu langit polos berwarna hitam. Tidak ada iringan musik. Tidak ada acara suap-suapan juga. Tapi rasanya begitu menyenangkan.
Hanya diam berdua bersama Sheromitha membuatnya bahagia. Shero tentu sibuk, namun ia selalu meluangkan waktu untuknya. Dan Shero tentu lelah, namun ia selalu tersenyum. Tidak pernah mengeluh. Ia melakukan hal-hal kecil untuk menunjukkan perhatiannya. Sederhana, namun berarti banyak.
Suara ketukan di pintu kamar membawa Ervan kembali ke masa kini. Pembantu rumahnya masuk membawa kotak setengah ukuran bantal kepala. Ia menaruhnya di atas tempat tidur di samping Ervan.
“Apaan nih? Dari Mama?” Ervan bangun dan membuka kotak itu. Isinya kue tart.
“Bukan. Maaf, Den. Mestinya ini dikasih semalem, tapi Bibik lupa ngambil di toko. Baru tadi pagi diambil, Aden udah berangkat sekolah duluan.”
“Bukan dari Mama, masa dari Papa sih?” kening Ervan berkerut.
“Ini dari Non Shero. Waktu itu, Non pesen supaya dikasih jam 12 malem. Tapi ya, Bibik lupa. Maaf ya, Den..”
“Dari Shero?! Hm.. ya udah, Bik. Bibik boleh keluar. Udah aku maafin kok,” katanya dengan senyum lebar.
“Makasih, Den.. kalau gitu Bibik permisi.”
Ervan mengeluarkan kue dari kotak. Ada amplop menempel di bawah tutupnya. Diambil dan dibukanya.
Tulisan Sheromitha meliuk-liuk dengan indah di atas kertas warna biru langit. Tercium aroma parfum yang familiar. Rasanya, ada Sheromitha di hadapannya.
Ervan…
Sekarang, aku pasti lagi di panggung. Mungkin nggak akan megang hape sampai beberapa jam ke depan. Nggak ngaruh sih.. meskipun pegang hape. Pulsa aku nggak akan sanggup bertahan lebih dari satu menit kalaupun mau nelepon. Soalnya masih dihukum mama. Gara-gara jebol pulsa bulan lalu. Hehehe…
Selamat ulang tahun ya.... Semoga kamu suka kuenya. By the way, sukses untuk pertandingan basketnya..! Semoga sepatunya bawa keberuntungan.
Love,
Sheromitha
NB : Jatah first cake-nya aku tagih tahun depan aja. Jadi, nanti aku dapat 2 potong. Ok.. ^^
 “Oke,” Ervan tersenyum memandangi tanda hati di surat itu.


Catatan : Cerpen ini meloloskan aku ke Kampus Fiksi yang diadakan angkatan @divapress

Tidak ada komentar:

Posting Komentar