Aku dan Pena

Aku berjalan menyusuri hari dengan penaku...
Aku berlari menyongsong tahun dengan penaku...

Karena aku tidak abadi, namun goresan penaku akan bertahan sepanjang zaman.

-Sydel Manalu

Rabu, 15 Januari 2014

You and Her - My Sister's Boyfriend

Oleh : @SydelOne

Aku mencintainya, Kak. Pacarmu. Aku jatuh cinta pada orang itu, dan aku harus memilikinya….
“Oh, Dad.. kau salah. Mereka salah. Aku tidak genius. Aku juga tidak gila. Aku hanya sangat bodoh dan ceroboh.”
Ya. Tina merasa bodoh. Jatuh cinta pada selembar foto. Tergila-gila pada tumpukan kartu dan kerinduan yang terpahat di atasnya.
Curahan hati Miran memperkenalkannya pada keindahan cinta. Keindahan yang tak pernah dirasakan nyata dalam rumah mereka. Sekarang gadis itu duduk manis dalam pesawat menuju Frankfurt, Jerman. Mengikuti gejolak penasaran yang merongrong jiwanya.
Maaf, Kak Miran. Kalau kau tidak suka, marahi saja aku nanti. Tahun ini, aku akan sangat sibuk.
“Pertama-tama…, harus belajar bahasa Jerman,” ia tersenyum menatap baris demi baris kata dalam halaman kamus yang dipegangnya.

Untuk Miran-ku tersayang,

Aku ada. Aku bertahan dari sesaknya kerinduan. Semua asaku, masih tertuju padamu. Guratan-guratan cinta di hatiku, masih menuliskan namamu.

Di mana kau? Apa kau baik-baik saja? Aku baik-baik saja.

Aku di sini. Menunggumu. Hanya untukmu.

Demikian isi surat di atas kartu yang Tina pegang. Ditulis dalam bahasa Jerman. Warna birunya sudah memudar, seiring dibacanya surat itu berkali-kali.
“Kakak.. tega sekali. Membuatnya menunggu dalam ketidakpastian,” katanya lirih.
Tina menyelipkan kartu tadi dalam buku agendanya, menyimpannya dalam tas. Ia mengambil cangkir kopi di meja dan menyesap isinya perlahan. Matanya mengerling. Tak dihiraukannya orang yang lalu-lalang di sekitar. Pandangannya tertuju pada sosok pemuda yang datang dari seberang jalan.
Paul Lee, 23 tahun. Seorang pemuda Korea blaster Jerman. Ia sudah menjadi guru les Tina selama dua bulan ini. Pemuda itu masuk dalam kafé dan menghampiri meja Tina. Menaruh ransel dan duduk. Ia tampak kesal.
“Setiap kali selalu belajar di sini. Bagaimana kau berkonsentrasi dengan suasana ribut begini?”
“Aku kan sudah bilang, kita belajar di tempatmu saja. Kau sendiri yang tidak mau! Aku hanya menumpang di tempat kakakku. Dia tidak suka aku membawa orang asing ke rumah,” gadis itu beralasan.
“Tapi dia baik-baik saja adiknya masuk rumah orang asing? Benar-benar kakak yang aneh. Ya sudah, mana tugas yang kuberikan? Apa ada kesulitan?”
Tina menyodorkan buku tulisnya. Ia ke dapur dan kembali dengan minuman untuk Paul. Senyumnya mengembang lebar melihat ekspresi serius pemuda itu. “Apa ada masalah?” tanyanya.
Pemuda itu menghela napas. Sebenarnya, ia tidak suka mengajar Tina. Bukan apa-apa. Setiap kali mereka belajar, mahasiswi tingkat 2 itu hanya bengong memandanginya. Ia merasa buang-buang waktu. Ya, meskipun saat diuji, Tina menguasai semua materi yang diajarkannya. Gadis itu menyenangkan untuk diajak berdiskusi, tapi bukan tipe anak yang butuh diajari. Jika Tina bukan keponakan bosnya, ia tidak akan mau dibayar hanya untuk dipelototi.
“Masalahnya adalah, kau tidak punya masalah. Biasanya mahasiswa yang mengajar les. Ini malah sebaliknya,” kata pemuda itu heran. “Kau pintar. Bahasa Jerman-mu juga sudah lancar. Kau tidak perlu les, belajar sendiri juga bisa.”
Tina memangku kepalanya dengan kedua tangan. Agak jengkel. Setelah setahun ini kepalanya mengepul karena belajar siang dan malam, Paul memujinya dengan wajah datar seperti itu. “Minum dulu tehnya.”
“Bagaimana kau tahu kalau aku tidak minum kopi? Terima kasih.”
“Bagaimana kalau kita jalan-jalan? Ibuku yang minta aku les, supaya aku tidak keluyuran. Jadi intinya, tujuan mereka membayarmu adalah untuk membuatku terus sibuk. Bukan untuk belajar,” jelas Tina.
“Pasti kau nakal, makanya orangtuamu tidak percaya,” komentar Paul.
“Ya, memang nakal. Aku jatuh cinta pada pacar kakakku sendiri,” pandangan Tina menerawang langit. “Aku pasti akan merebutnya!”
“Kau gila!” Paul mengernyit. “Pantas saja orangtuamu khawatir.”
Tina terkikik geli. “Kau orang pertama di Jerman yang mengatakannya. Sudah setahun aku tidak dengar orang mengatakan aku gila. Ayo kita pergi!”
Paul ingin protes, tapi gadis itu sudah jauh berlari. Ia meminum tehnya terburu-buru dan segera pergi menyusul.
Tina memperlambat langkahnya. Kadang berhenti. Berputar pelan mengelilingi tiang lampu di trotoar. Matanya menelusur gedung-gedung apartemen yang mereka lewati. Bangunan-bangunan itu tampak seperti pengawal yang bergandengan. Bertahan. Rapat. Rapi. Kokoh. Namun, klasik dan indah di saat yang bersamaan. Dulu, Tina mengira gedung-gedung itu berhubungan dengan tempat seni, museum atau sejenisnya. Ia agak terkejut saat mengetahui sebagian besar merupakan gedung apartemen. Sebanyak itu, tetap saja, setengah mati rasanya mencari tempat tinggal di kota ini.
Pandangannya beralih kembali pada sosok yang berjalan mengikutinya. Sudah setahun tinggal di Jerman, baru 6 bulan yang lalu ia menemukan Paul. Selama itu, mereka hanya bertemu sebagai pelayan kafé dan keponakan bos. Ia senang sekali, akhirnya menemukan cara untuk lebih dekat dengan pemuda itu.
“Kenapa kau senyum-senyum begitu? Apa ada sesuatu di wajahku?” Paul jengkel. Ia segera sadar, lagi-lagi, gadis itu memperhatikan wajahnya.
“Aku suka matamu,” jawab Tina. Gadis itu berhenti sejenak, agar dapat berjalan sejajar dengan Paul.
“Mataku?” Paul agak mendelik. Sejauh ini, biasanya orang lebih tertarik pada wajah Asia-nya. Matanya yang biru pucat menurun dari ibunya. Tapi, mata biru sangat umum di Eropa. Tidak ada yang istimewa dengan itu.
“Matamu sangat indah. Aku suka melihat orang berdarah campuran. Mereka punya wajah unik.”
“Bukankah kau sendiri anak blasteran? Hm… maaf kalau aku salah. Soalnya, kau orang Korea, tapi namamu Christina. Bahasa Inggris-mu juga sangat fasih.”
Senyuman di wajah Tina menghilang. Berganti dengan sorot luka. “Tidak ada yang percaya bahwa aku anak ibu. Karena namaku. Ibu mau menggantinya, tapi aku tidak mau. Nama ini, satu-satunya yang mengingatkan aku. Darah dad mengalir di tubuhku.”
Mereka berhenti di halte. Tina melihat jadwal bus di papan, lalu duduk dengan tenang. Paul duduk di sampingnya. Ia merasa tidak enak. Tidak yakin harus mengatakan apa untuk menghibur. Ia tidak pernah melihat gadis tomboi itu semurung ini.
“Salju…! Salju pertama akhirnya turun!” teriakan Tina menyentak lamunan Paul.
Paul hanya bengong. Sepertinya ia tidak perlu khawatir lagi.
Oh, the weather outside is frightful. But the fire is so delightful. And since we've no place to go… let it snow, let it snow, let it snow….” Tina bernyanyi riang. Berdiri di trotoar. Ia tampak sangat bahagia saat bulir-bulir salju menyentuh kulitnya. Begitu bahagia, sampai tidak peduli, orang-orang di halte melihatnya dengan heran.
Bus datang, namun Tina masih asyik dengan dunianya. Paul merasa sedikit lucu melihat tingkah gadis itu.
Seperti anak-anak, matanya melebar senang melihat salju sedikit demi sedikit mewarnai ranting pepohonan.
Tina menadahkan tangannya. Membiarkan kepingan-kepingan putih yang halus itu memenuhi telapaknya. “Aku bertanya-tanya apakah salju mencintai pepohonan dan ladang, hingga ia mengecup mereka begitu lembut? Dan kemudian menutupi mereka dengan nyaman, kau tahu, dengan selimut putih; dan mungkin ia mengatakan—”

“Pergilah tidur, sayang, hingga musim panas datang lagi[1],” Paul melanjutkan kata-katanya.
Tina menoleh kaget, “Kau juga membacanya?”
Yeah, untuk adikku.”
“Waktu kecil, aku dan Dad membaca bersama setiap hari Minggu. Oh, aku rindu sekali pada ayahku. Saat musim dingin begini, saat hujan salju mulai turun… Dad akan mengambil gitarnya dan menyanyikan lagu Let It Snow! Sangat menyenangkan.”
***

Malam menjelang, namun Römerberg, Frankfurt, tidak kekurangan cahaya. Weihnachtsmarkt[2] Frankfurt adalah salah satu tujuan wisata musim dingin yang terkenal di Jerman. Dan sekarang, Tina dan Paul ada di tempat ini. Dikelilingi warna-warni Natal. Bermandikan cahaya lampu-lampu dan harum manisnya kue-kue.
Tina menarik napas dan menghembuskannya kuat-kuat. Matanya berkilat-kilat. Bercahaya. Tak kalah dengan pohon Natal raksasa di hadapannya. Bukan hanya itu, bangunan-bangunan yang memagari weihnachtsmarkt, stan-stan Natal, semua berlomba menjadi yang paling cantik. Semua ingin jadi yang paling menarik.
“Aku harap, Kakak ada di sini.”
Déjà vu…,” gumam Paul.
“Hah? Apa kau mengatakan sesuatu?”
Paul menggeleng. “Tidak. Bukan apa-apa. Ayo ke sana..!”
Paul sesekali melihat Tina. Ia yakin, pernah mengenal gadis itu. Bukan hanya kali ini, Tina sering sekali membuatnya heran. Gadis itu tahu apa yang ia suka. Tahu apa yang ia tidak suka. Tahu beberapa kebiasaannya. Seperti Miran. Tina selalu tahu bagaimana meluluhkannya.
“Aku harap, Christina ada di sini. Pasti menyenangkan…,” kata Miran saat Natal tiga tahun lalu. Sambil menatap komidi putar. Tepat di tempat Tina berdiri sekarang.
Sekali lagi diperhatikannya wajah Tina. Pemuda itu menepuk-nepuk pipi. Segera menepis pikiran anehnya. “Christina.. mungkin karena namanya sama. Mungkin aku terlalu merindukan Miran. Jangankan dengan Christina, adiknya, dengan Miran pun tidak mirip sama sekali. Mana boleh aku membandingkan Miran dengan anak hiperaktif itu! Bodohnya!”
Tina berbalik tiba-tiba. Ia berlari kecil menghampiri Paul. Ditariknya pemuda itu naik komidi putar. “Ayo! Kau bicara pada siapa, sih?”
Salju turun. Angin membekukan malam. Mengiring puncak musim dingin. Namun anehnya, Tina dan Paul merasa hangat. Tertawa dan bernyanyi riang. Tak terasa lagi perihnya tamparan angin. Hanya ada percikan semangat dan bahagia yang membungkusnya.
“Aku tidak percaya ini, aku hang out dengan anak kecil. Kalau Soora tahu, dia akan menertawakanku.”
“Soora, teman Miran? Aku tidak suka padanya. Dia itu rubah licik. Temanmu yang satunya juga. Dia genit,” Tina mengernyit.
“James? Hahaha..! Aku rasa dia menyukaimu. Mereka itu seangkatan denganku, jadi masih seniormu. Sopanlah sedikit!”
“Maaf saja. Aku tidak melihat senior dari umur, tapi dari sikap dan isi kepalanya.”
“Kalau Miran di sini, kalian pasti akan cocok. Kau masih sangat muda, tapi menurutku, kau benar-benar teman yang cerdas dan menyenangkan. Jarang ada anak perempuan sepertimu,” Paul tersenyum tulus.
“Paul Lee-ssi, berhentilah memujiku.” Tina bicara dalam bahasa Korea. “Apa kau bisa bertanggung jawab kalau aku jatuh cinta padamu? Karena aku menyukaimu. Bukan tidak mungkin aku akan merasa lebih.”
Paul bengong. Mencoba mencerna kata-kata Tina. Saat tersadar, gadis itu sudah tidak ada. Ia bergegas turun dari komidi putar. Teringat pesan bosnya agar tidak melepaskan mata dari Tina. Pemuda itu mempercepat langkah. Mengedar pandangan ke sekeliling dengan cemas.
“Apa boleh motifnya dicampur, Tuan? Aku mau beli mug-nya selusin.” Tina berdiri di sebuah stan yang menjual suvenir. Celingak-celinguk memilih barang yang diinginkannya.
Paul menarik napas lega. Ditariknya tangan gadis itu dengan gemas.“Jangan menghilang seperti itu! Membuatku khawatir saja…”
Tina menatapnya lekat. Kedua alisnya naik. “Kalau aku menghilang seperti Miran, kau akan khawatir?”
Ada apa denganku? Harusnya aku marah! Kenapa jantungku berdetak sangat cepat? Tidak. Ini tidak benar! Paul mengalihkan matanya dari wajah Tina.
Tina terkekeh geli. “Hey! Apa kau benar-benar berpikir, aku cukup bodoh untuk mengejar seseorang yang sudah punya pacar? Pacar setia yang keras kepala sepertimu pula!”
“Mungkin saja. Kau bahkan cukup gila untuk menyukai pacar kakakmu sendiri,” komentarnya.
 “Itu berbeda. Kakakku.. dia sudah mati.”
“Apa? Maksudmu…. Hm, maaf, tadi aku hanya bercanda. Aku tidak tahu. Aku turut berduka,” Paul kembali mengarahkan wajahnya pada Tina.
“Tolong, Paul, jangan turut berduka. Karena aku sama sekali tidak berduka. Hh… kalau saja kau bukan pacar siapa-siapa, aku tidak perlu repot begini. Mengejar hati yang berpenghuni.”
***
Natal segera datang. Akan jadi Natal kedua tanpa kehadiranmu. Aku memimpikanmu semalam. Menatap matamu. Mencium wangi rambutmu. Namun tak kulihat wajahmu.

Di mana kau? Aku rindu.

Apa kau baik-baik saja? Aku baik-baik saja, meski hatiku tidak.

Yang mencintaimu, Paul Lee
Paul menaruh kartunya dalam kotak surat. Ia bergeming di depan apartemen itu. Berharap pintu terbuka dan kekasih hatinya keluar dari sana. Namun tidak. Hanya hening yang datang menyiksa batinnya.
Disentuhnya permukaan pintu. “Aku mencintaimu, Miran. Aku sangat mencintaimu,” bisiknya. “Jika kau tidak lagi mencintai aku, tidak apa-apa. Hanya, biarkan aku tahu, kau baik-baik saja.”
Di balik pintu, Tina hanya berdiri membatu. Sendirian dalam kegelapan. Tangannya gemetar.
“Kalau aku mati, berikan surat itu padanya.” Suara Miran kembali mengiang. Lirih. Rapuh. Bersama wajah yang basah sedu.
Kak…, kau bilang, kau menyayangi aku apa adanya. Kau tidak akan membenciku apa pun yang kulakukan.
Begitu Paul pergi, Tina juga bersiap. Ponsel, laptop, buku agenda, dompet, kacamata dan satu strip obat mag masuk dalam tas selempangnya. Ia membuka pintu dengan tergesa. Hampir melompat.
Agassi[3]? Ya ampun! Aku kira ada maling. Kau ke mana saja? Kau tinggal di mana? Nyonya khawatir terus.”
“Sialan! Aku kira Paul,” desis Tina. Ia mendelik jengkel pada wanita paruh baya di hadapannya. “Bilang pada Aunt dan Uncle, aku baik-baik saja.”
“Dokter Shin datang mencarimu. Dia ada di rumah. Aku harus bilang apa padanya?”
“Hah?! Jangan bilang, Mom…. Arghh!! Aku sudah menghilang ke sini, dan mereka masih saja menggangguku?! Brengsek kalian semua!” Tina melewati wanita itu. Mengambil isi kotak surat dan pergi begitu saja.
Kurang dari sejam, Tina sampai di kafé. Paul masih bekerja. Ia duduk di sudut dekat pintu menuju dapur, tempat favoritnya. Membuka laptop dan mulai tenggelam dalam kesibukannya sendiri.
“Kau bisa bahasa Perancis?”
“Ha?” Tina terkesiap, Paul menaruh secangkir kopi dekat kotak kacamata dan duduk di sampingnya. “Bisa sedikit.”
“Kelihatannya sangat banyak,” komentar pemuda itu. Melirik jumlah halaman yang tertera di pojok layar.
“Ini… aku membantu juniorku di Korea, membuat esai untuk pelajaran bahasa Perancis.”
“Itu curang namanya. Kau membuatnya bodoh, kau tahu.”
Yeah.. benar. Tapi aku dapat banyak uang berkat kebodohan mereka,” Tina meminum kopinya.
“Aku penasaran, siapa kau sebenarnya? Mengambil jurusan Science, tapi tertarik pada bahasa, sastra, komputer, sosial…”
“Aku tidak bisa menjelaskan diriku, aku takut, Tuan. Karena aku bukan diriku yang kau lihat,[4]” jawabnya sambil tersenyum datar. “Boleh aku minta air mineral?”
Sparkling water[5]?”
“Tidak, tolong, air biasa saja. Aku mau minum obat. Sebenarnya manis, ini obat mag, tapi aku tidak suka rasanya menempel di lidahku,” jelas gadis itu.
Paul tertegun. Menatap kemilau warna hazel di balik kacamata itu. Ini pertama kali dilihatnya. Biasanya gadis itu memakai softlenses, bukan kacamata.

Tina tersadar, pemuda itu sedang memperhatikan matanya. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya ke layar laptop.
“Sebentar, aku ambil air untukmu.”
Tina melihat jam di desktop. Seharusnya, surat yang dikirimnya sudah sampai.
Sebentar saja Paul sudah kembali. “Sebaiknya kurangi minum kopi. Itu tidak bagus untuk lambung,” katanya.
“Terima kasih,” Tina hanya mengangguk. Ia hampir tersedak mendengar bunyi ponsel Paul.
“Sebentar…,” Paul menerima telepon yang masuk. “Ya, Bu?”
Maafkan aku, Kak. Aku tidak bermaksud menyumpahi atau mengutukmu. Hanya…, ini satu-satunya cara untuk masuk dalam hatinya. Dengan menyingkirkanmu. Tina meremas jemarinya yang gemetaran. Menatap Paul dengan takut-takut.
“Apa Miran sendiri yang mengantarnya? Hm.. tolong tahan anak itu, Bu. Aku segera pulang.”
“Ada apa?” tanya Tina datar.
“Aku harus pulang. Bos sedang keluar, bisa mintakan izin untukku? Aku benar-benar harus pulang!” Paul tampak sangat gusar.
“Kalau begitu pulanglah. Soal izin, serahkan padaku.”
“Terima kasih, Tina. Aku berhutang padamu. Minggu nanti, aku akan menemanimu jalan-jalan sampai kau puas,” katanya bersemangat.
Tina mengangguk. Hanya diam memperhatikan pemuda itu pergi.
“Tidak. Akulah yang berhutang padamu. Hutang maaf yang tak akan pernah bisa kuucapkan,” gumam Tina lirih.


Catatan : Dibuat untuk memenuhi tantangan menulis @KampusFiksi #KisahEmpatMusim #WinterStory



[1] [4] Lewis Carroll, Alice's Adventures in Wonderland & Through the Looking-Glass
[2] Pasar Natal
[3] Nona
[5] Air mineral bersoda


I didn't own pictures that I used in this post.

Selasa, 07 Januari 2014

Romansa Anak Gang

"Dok.. aku sakit."
"Sakit? Sudah minum obat? Apa kamu sudah ke dokter?"
Aku tersenyum masam. Suara cemas itu membuat rinduku semakin menjadi-jadi. "Sakit sekali. Jantungku seperti dipelintir. Makan tak enak. Apa-apa tak enak. Mau mati saja rasanya."
"Apa kamu salah makan? Segera ke rumah sakit."
"Kamu tidak tanya, aku sakit apa?" aku balik bertanya.
"Sakit apa?"
"Mala rindu, tropis kangen. Obatnya tertinggal di Bandung. Sekarang aku harus bagaimana, dok?" rajukku dengan manja.
Terdengar tawa renyah Sam. Sangat merdu di telingaku. Kubayangkan wajahnya. Sekarang. Di balik kacamata kotaknya, mata sipit itu tampak seperti garis. Ia memutar kursi ke arah jendela, lalu membuka gorden lebar-lebar. Tersenyum simpul seraya menghela napas. Memandangi langit Bandung yang penuh polusi.
"Maaf, ya, Zi. Aku ingin sekali ikut ke sana," kata Sam lembut.
"Yah, tidak apa-apa. Habis dengar suaramu, aku merasa sedikit baikan. Bagaimana pasien pagi ini, dok?"
Pandanganku menerobos bangunan-bangunan rumah yang berderet rapi. 45­­­° menuju langit. Tampak menara oranye terang berdiri gagah. Dari tempatku, sepertinya lumayan jauh. Aku berjalan kaki menuju ke arah menara itu.
Lepas dari batas perumahan tempat tinggalku. Melewati perkampungan kecil, lalu keluar di sebuah jalan besar. Menengok ke kanan, tampak gerbang besar yang terbuka lebar. Dengan sebuah plang besar di depan bangunan dalam gerbang. Kecuali bagian dalam gedung, tempat ini terbuka untuk umum. Aku ingat, di sini aku belajar naik motor bersama teman-teman. Ah. Sudah berapa lama aku tidak bertemu teman-temanku?
Dulu. Aku dan teman-teman suka olahraga pagi di sini. Jam 4 pagi. Jalan-jalan sambil mencari sarapan. Pergi ke sawah. Menunggu kereta lewat. Kami tinggal dekat stasiun, tapi tidak pernah bosan melihat kereta api setiap hari.
"Aku ada di Pusri. Ingat, kan? Dekat rumah teman SMP-ku. Yang ada menaranya. Tadinya mau jogging, tapi aku bangun kesiangan."
"Aku ingat. Jalan besar yang dekat rel kereta itu, kan? Tidak pergi main sama teman-teman?" tanya Sam heran.
"Ada beberapa yang pulang ke Jatibarang juga. Tapi, aku ingin sendiri. Bertemu mereka, aku akan semakin bingung ambil keputusan."
"Ya sudah. Kamu puas-puasin jalan-jalan. Nanti kalau ada yang menarik, ceritakan padaku," katanya.
"Siap, dok!"
Matahari terik. Memang berbeda cuaca di Indramayu dan di Bandung. Di Bandung panas, panas matahari membakar polusi. Menyengat kulit. Di sini juga panas, tapi panas gerah. Mungkin karena kota kecil ini dekat dengan daerah pantai. Besok harus bangun lebih awal, agar sempat menikmati sejuknya angin di sawah.
"Mang..!" aku melambai pada seorang tukang becak yang lewat. Ia tersenyum. Membalas lambaianku dan bergegas datang.
***
Saat becak yang kutumpangi melewati pasar Jatibarang, aku mampir sebentar. Makan soto ayam dan es campur di depan toko mas depan pasar. Duh! Aku jadi kangen masa kecil dulu. Waktu keluargaku masih mengontrak rumah. Pulang sekolah jalan kaki. Lewat stasiun Jatibarang yang kebetulan bersebelahan dengan pasar. Aku suka mampir makan soto depan stasiun. Rasanya nyaris sama dengan soto yang kulahap tadi.
Akhirnya, kenangan soto ayam membawaku ke sini. Aku naik becak sampai sebuah gang dekat kantor Telkom. Ya. Di kota Mangga ini memang sudah banyak perumahan-perumahan BTN. Tapi, masih lebih banyak lagi pemukiman di gang-gang kecil. Bukan pemukiman kumuh! Sama sekali bukan. Hanya saja, ini berbeda dengan pemukiman gang yang sempit dan jorok seperti di kota-kota besar.
"Ning kene bae tah, Yayu-e?[1]" tanya tukang becak itu. "Masih adoh meng jero-e.[2]"
"Ning kene bae, Mang. Kesuwun[3], ya, Mang," jawabku kaku sambil memberi uang padanya. Beberapa tahun ini lidahku hanya dipenuhi bahasa Indonesia, Sunda dan Inggris, jadi terasa agak janggal memakai bahasa Jawa.
Dari jalan raya, aku putuskan masuk ke dalam gang dengan berjalan kaki. Tidak ada alasan khusus. Hanya ingin membuang waktu lebih banyak. Sudah banyak bangunan baru. Lebih modern dari yang terakhir kuingat. Tapi, letak-letaknya kurang lebih masih sama.
Jalan ini mungkin hanya muat dilalui sebuah mobil dan sebuah motor secara bersamaan. Tidak terlalu besar memang. Tapi jalan kecil di gang inilah yang kulalui setiap pagi, berangkat sekolah. Setiap siang, sepulang sekolah. Ini jalan yang kususuri. Berlarian. Bersepeda. Berbolangria dengan teman-teman.
"Sudah belasan tahun. Mungkin tidak ada lagi yang ingat aku," gumamku.
Orang-orang, khususnya anak-anak, tampak penasaran dengan kehadiranku. Penampilanku memang agak mencolok jika dibandingkan dengan mereka. Seharusnya aku memakai baju yang lebih sederhana. Meski begitu, mereka tetap ramah saat aku mampir di warung dan mengobrol sebentar di sana.
Setelah membeli minuman dingin, aku melanjutkan perjalanan. Mengikuti anak-anak kecil yang berlarian lebih jauh ke dalam gang. Laki-laki, perempuan. Kaya, miskin. Yang putih, yang hitam. Tidak ada batasan lagi.
"Tidak beda denganku. Ah, malah masa kecilku lebih ramai lagi dari ini," aku bergumam lagi. Lirih. Kali ini sambil tersenyum.
Aku sampai di tempat pemakaman umum. Terletak di kanan-kiri jalan. TPU ini memisahkan gang Jaya dan desa Karanganyar. Ya. Kuburan-kuburan Cina bertebaran ke mana mataku memandang. Dan kini, anak-anak tadi bermain riang di atas keramik-keramik tinggi yang menaungi rumah orang-orang mati itu.
Menengok ke sebelah kiri, rumah kontrakan yang dulu kutempati masih berdiri tegak. Dengan penampilan yang lebih bagus. Meskipun, masih tepat bersebelahan dengan area kuburan yang dipenuhi pohon-pohon liar.
"Kak Zizi!" suara itu membuatku menoleh.
Seorang, uhm, gadis? Berdiri di sebelah rumah lamaku. Rambutnya ikal. Kulitnya hitam manis. Ia jelas lebih muda dariku, tapi sudah menggendong bayi di punggungnya.
"Lupa, ya? Aku siapa coba?" ia tersenyum.
"Oh..! Lina, tah? Ya ampun, kamu, Lina? Itu siapa? Anakmu?" aku membelalak tak percaya.
Lina hanya tersenyum dan mengangguk. Yang benar saja! Anak ini masih sempat kugendong-gendong waktu dia kecil. Aku baru berencana menikah, dia malah sudah punya anak.
Ya ampun! Kalau tidak jadi TKI, sepertinya, orang di daerah ini lebih suka menikah muda. Suka atau memang sudah tradisi, ya? Hhh! Aku bersyukur, masih bisa makan bangku kuliah. Menepati janjiku pada almarhum Maman. Sahabatku.
"Yayu bari Aang ana ning umah?[4]"
"Lagi langka uwong[5]. Tapi mampirlah! Yuk!" ia menggandengku pergi.
Rumah Lina ada di belakang rumah lamaku. Tidak jauh berbeda dari ingatanku. Masih ada kandang kambing di belakang. Dan tentu saja, lengkap dengan ayam berkeliaran di mana-mana.
"Kalimantan? Jauh banget sih, Kak," katanya dengan logat Jawa yang kental. "Dua tahun itu lama banget, lho, Kak!"
"Mau bagaimana.. perusahaan yang mengirimku."
***
Cuaca cerah. Sama seperti kemarin. Di tempat yang sama seperti kemarin. Namun kali ini, aku ditemani segerombol anak-anak kecil. Dari yang masih berumur 5 tahun, sampai yang paling besar berumur 12 tahun. Kurasa, semua anak-anak gang Jaya sedang bersamaku saat ini.
Kami menyusuri gang. Melewati pekuburan. Sampai kuburan-kuburan mewah habis, berganti dengan kuburan-kuburan biasa yang penampilannya lebih sederhana. Jalan aspal pun sudah berganti menjadi tanah. Pohon kamboja menebar bunganya di seluruh penjuru. Diselingi bunga tahi ayam dan bunga kingkong. Mengantar kami sampai perbatasan antar desa.
"Yang rapi..! Awas yang cilik[6] ketinggalan!" Obe memberi komando pada teman-temannya. Ia adalah keponakan Lina. Anak kakak perempuannya, salah satu teman masa kecilku.
Sungguh bebas mereka ini! Tidak peduli berada di mana, ada saja alasan mereka untuk merasa gembira. Semua adalah petualangan untuk anak-anak ini. Tak ada lahan lapang, sawah dan kuburan pun dijadikan tempat bermain. Kolam renang umum jauh, kali Cimanuk pun tak masalah.
Anak-anak laki-laki. Dari yang kecil sampai yang paling besar. Mereka seperti kesetanan begitu kali Cimanuk yang keruh tampak di depan mata. Membuka pakaian di tempat. Langsung melompat ke dalam air. Tidak tahu kapan dicari, tahu-tahu ada saja yang sudah siap dengan gedebog[7] di tangan.
Sementara anak laki-laki berenang, aku dan anak-anak perempuan lainnya menyeberangi kali dengan perahu. Sebuah perahu tua besar sederhana yang dijalankan dengan cara manual. Kusebut manual, karena tidak memakai motor dan tidak pula memakai dayung. Ukurannya terlalu besar jika harus didayung. Jadi, tukang perahu menarik kawat baja yang terbentang dari ujung ke ujung kali. Dia menariknya dengan tangan. Manual, bukan? Benda ini satu-satunya transportasi untuk menyeberangi kali. Kecuali jika kita mau berenang, atau memutar lewat jembatan jalan raya.
"Bilang hai, sama Koko[8] Sam!" kuedarkan layar tabletku, agar Sam dapat melihat anak-anak.
"Hai, Koko Sam..!" sapa anak-anak sambil melambai riang.
"Hai, semuanya!"
"Udah makan siang, dok?" tanyaku.
"Barusan selesai. Kamu udah makan siang?"
"Belum. Dari tadi jajan mulu sama anak-anak, jadinya nggak lapar. Eh, lihat! Pernah naik perahu ginian, nggak? Di Bandung mana ada yang gini! Adanya perahu karet buat arung jeram, hehe.."
"Asyik banget kayaknya. Itu di sungai apa?"
"Ini kali Cimanuk. Keruh, ya? Kuning. Tapi kan nggak sejorok sungai Cikapundung. Meski sama-sama suka luber, hahaha!" aku tergelak sendiri, mengingat kali Cimanuk ini juga suka jadi biang kerok. Alias sering banjir.
"Eh, Zi! Lagi musim mangga nggak di sana? Mau dong. Pulang bawa yang banyak, ya…"
"Wokey, dok! Mangga, dodol, terasi.. apa lagi, ya? Semua tak bawakan deh! Sekalian ntar tak gotong alun-alun Indramayu! Dok, udah dapat panggilan, tuh," aku menunjuk seorang suster yang berdiri di ambang pintu ruangannya. "Ntar kita lanjutin lagi. Selamat kerja, ya, sayang!"
"Ya udah. Sampai nanti, ya, sayang." Sam memutuskan sambungan.
"Cieeee…" sorak anak-anak.
"Hush!! Jangan sirik, deh!" kataku sambil mengerling centil.
Mereka semua tertawa.
"Eh-eh-eh! Besok sore, mau pada ikut jalan-jalan, nggak? Kita main ke Banjar, yuk!" kataku bersemangat.
"Ngapain, Kak? Ndeleng keték[9]?" tanya seorang anak perempuan yang duduk di sampingku. Mereka memanggilku kakak. Karena sudah diberitahu, aku ini orang Batak tulen.
"Nggak ada pasar malam, tah?"
"Pasar malam adanya pas libur panjang aja, Kak. Pas Rayaan, Natalan,[10]" jelasnya.
"Oh iya! Kakak lupa, udah lama nggak ke sana soalnya. Hmm! Ke pantai, gimana? Kita ke Tirtamaya, atau Eretan? Hm? Gratis deh.. pake mobilku. Kalau nggak muat, tak sewakan angkot aja. Gimana?"
Lagi-lagi mereka bersorak girang.
Betapa tulusnya kebahagiaan anak-anak ini. Dalam kepolosan mereka. Kesederhanaan mereka. Seolah tidak ada beban. Padahal, beberapa mungkin tak punya ibu di rumah. Bukan yatim, hanya ibunya berangkat jadi TKW. Beberapa lagi mungkin ayahnya hanya tukang becak. Atau mungkin petani kacang. Yang saat musim hujan, saat kali Cimanuk meluap oleh banjir kiriman, kerja kerasnya ludes sekejap mata.
Aku merasa berdosa jika harus merasa sedih saat berada di tengah-tengah tawa anak-anak ini. Bertanya-tanya pada diri, kenapa tepatnya antusiasku hilang.
Seperti janjiku pada Maman. Aku tidak mengikuti langkahnya jadi TKI. Menjauh dari kemungkinan, mati jadi babu di negeri orang. Menjauh dari kemungkinan, pulang-pulang hamil anak majikan. Seperti yang Maman alami. Seperti yang ibu Maman alami. Aku mengejar cita-cita kami. Dan kini aku berjalan di dalamnya.
Tapi, benarkah aku sudah mencapai cita-citaku? Tidak! Cita-citaku belum penuh. Masih panjang. Masih jauh. Dan kalau sudah dapat, masih ada segudang lagi untuk kutuju. Tapi kenapa harus Kalimantan? Jauh dari kampung orangtuaku di Sumatera. Lebih jauh lagi dari tempatku dibesarkan ini.
***
Umurku baru menginjak 24 tahun beberapa minggu yang lalu. Jika orangtuaku masih hidup, pasti mereka sudah mengomel supaya aku cepat-cepat nikah. Ahh. Senangnya jika masih punya orang tua. Akan ada alasanku untuk menolak dipindahkan ke Kalimantan. Ada yang melarang. Aku pasti tidak akan pergi, bahkan jika aku harus keluar dari kantor.
Aku melihat-lihat hasil foto jepretanku sejak kemarin. Teduh sekali melihat senyuman bibir-bibir kecil itu. Mungkin karena mereka mengingatkan, bagaimana masa kecilku. Ya. Aku juga anak gang. Tumbuh dalam petualangan-petualangan tanpa batas. Berkelana ke sana-ke mari. Mengelilingi seluk-beluk kota mangga, Indramayu.
Aku melakukannya saat kakiku belum sepanjang ini. Saat pengetahuanku belum sampai ke ibu kota Jawa Barat. Saat keingintahuan lebih besar dari rasa takut dimarahi mama. Saat keberanian lebih tebal dari uang jajan di saku.
"Ya. Aku anak gang. Tak ada yang perlu kutakutkan. Bukankah di Kalimantan, petualangan baru sedang menantiku? Sebagai bonus, aku sekalian bekerja dan dapat gaji..!" aku bicara keras-keras di dalam kamar. Maksud hati ingin menghibur diri.
Cita-cita kuraih. Karir kuraih. Tapi bagaimana dengan Sam? Aku percaya padanya, tapi tak percaya pada maminya. Mami Sam tidak akan menunggu 2 tahun untuk mencarikan penggantiku. Ahh! Lagi-lagi aku iri pada gadis-gadis berayah-ibu di luar sana. Kalau bukan diri sendiri, siapa lagi yang akan membela dan menjaga tempatku?
Ponselku berbunyi. Tampak foto Sam menghiasi layarnya.
"Belum tidur, Zi?" tanyanya lembut.
"Kamu sih, nelepon! Habis ini aku akan makin susah tidur, gara-gara memikirkanmu terus!" omelku. Aku menghela napas dalam-dalam. Sambil menekuri motif bunga di wallpaper kamarku.
"Zi.. aku tahu, kamu mencintai pekerjaan ini. Sama seperti aku mencintai pekerjaanku. Ini adalah mimpimu. Kebanggaanmu!"
"Dok.. apa kamu akan menungguku?"
"Kau layak untuk kutunggu, Zi."
"Dok.. apa kamu akan merindukanku?
"Kau layak untuk kurindukan."
"Kenapa juga aku harus pacaran dengan seorang dokter?! Kalau bukan aku yang pindah, pasti kamu! Aku sudah salah memilih pacar," isakku meledak juga akhirnya. "Payahnya, sudah kuberikan semua hatiku. Karena aku tak ada tempat lagi untuk berbagi sayang."
Hening. Mungkin Sam menunggu aku selesai menangis.
"Setelah ini, aku pensiun jadi anak gang. Aku akan jadi anak hutan."
"Jangan nangis lagi. Nanti matamu bengkak. Bukankah besok mau jalan sama anak-anak gang Jaya?" Sam mengingatkan.
"Mm," aku mengangguk. Seolah pemuda itu dapat melihat anggukanku.
"Hari Sabtu dan Minggu nanti jadwalku kosong. Sisakan tenagamu untuk membawaku jalan-jalan, ya.."
"Benarkah?? Hmm, bagaimana kalau ke alun-alun? Kita makan nasi Jamblang! Habis itu.. mampir ke pabrik dodol. Kamu suka dodol mangga, kan? kita juga harus ke—"
Sesaat saja aku sudah lupa kegelisahanku. Hanya dengan memikirkan, petualangan apa yang akan kulakukan bersama Sam. Yeah. Ke mana pun aku pergi, aku akan baik-baik saja. Selama aku melakukannya dengan sukacita. Seperti yang seharusnya kulakukan.

Catatan : Seharusnya cerpen ini untuk #KampusFiksiEmas (ada foto-foto settingnya, kapan-kapan kuposting), tapi yaaa.. gara-gara nilaiku yang babalatak, akhirnya nggak dapat izin ke Yogyakarta (padahal, belom tentu lolos walaupun dikirim juga, kan..? Hiks..)



[1] Di sini saja, mbak?
[2] Masih jauh ke dalam.
[3] Terima kasih
[4] Kakak dan Abang ada di rumah?
[5] Sedang tidak ada orang.
[6] Kecil
[7] Batang pohon pisang
[8] Panggilan abang untuk suku Tionghoa
[9] Lihat monyet?
[10] Saat Lebaran, Natal