Aku dan Pena

Aku berjalan menyusuri hari dengan penaku...
Aku berlari menyongsong tahun dengan penaku...

Karena aku tidak abadi, namun goresan penaku akan bertahan sepanjang zaman.

-Sydel Manalu

Minggu, 22 Desember 2013

Kidung Laut

 Oleh : @SydelOne
“Sudah sore, ayo pulang. Banyak angin di sini,” suara mama menyentak lamunanku.
“Aku masih ingin di sini, Ma. Papa bilang, malam di Wakatobi tak kalah cantik dengan siangnya,” jawabku tanpa menoleh.
Bening birunya laut memang sudah menghitam. Surya telah sembunyi di balik awan-awan senja yang tipis. Membias keemasan dan merah di ambang lengkung langit. Cahayanya yang sepi menuturkan sendu. Namun di saat yang sama, kepolosannya menyiluetkan ketegaran. Pantai Wakatobi membuka malam Natal tahun ini dengan senyum lembutnya.
Mama menyampirkan jaket di pundakku. “Jangan pergi jauh-jauh. Jam 11 kita berangkat kebaktian malam Natal,” katanya sambil memelukku sekilas.
Perhatianku terpaku pada garis-garis ombak yang putih. Saling berlomba. Menghempas diri ke batu-batu besar dan membuat paduan suara. Seperti kidung anak-anak kecil yang ceria.
“Pernahkah kamu mendengar laut bernyanyi?” suara itu mengiang dalam pikiranku. Bergema sampai ke telinga. Sangat jelas.
Kututup mata. Bersandar nyaman pada kokohnya pohon kelapa. Kudengarkan lagi orkes laut di hadapanku. Batu, angin dan ombak bersimfoni dengan harmonis.
“Kalau hanya mau dengar suara ombak, ke Ancol juga bisa!” kali ini kudengar suaraku. Menyentak. Merajuk. Tak mau tahu, yang kuajak bicara saat itu adalah papaku sendiri.
Papa memelukku. Membisikkan maaf. Lirih. Hampir tertelan oleh sengguk yang tak habisnya keluar dari mulutku.
“Papa tidak bisa berbuat apa-apa soal kepindahan kita ke Sulawesi. Tapi, Papa janji, Natal tahun ini.. Papa akan berikan hadiah yang bagus!”
“Aku tahu Wakatobi itu indah. Sudah sering lihat kok, dari foto-foto yang dikirim Nenek,” komentarku sambil menghapus sisa-sisa air mata di pipi.
Papa menggeleng, “Kamu pasti suka. Papa janji.”
Apa aku tertidur? Aku tidak yakin. Menit demi menit. Jam demi jam. Berlalu begitu cepat. Angin tidak membuatku merasa dingin. Aku hanya diam. Begitu tenang. Ditemani kidung laut Wakatobi. Dan sekarang sudah hampir jam 10.
Kalau saja papa tidak kecelakaan di tempat kerjanya. Kalau saja kami pindah ke sini lebih cepat. Kalau saja. Pasti papa ada di sini. Mendengarkan nyanyian laut bersamaku.
“Selamat Natal, Papa. Ini hadiah Natal paling keren di seluruh dunia. Aku sangat suka. Terima kasih, Pa…”

Dibuat untuk tantangan menulis cerpen #KabarNatal @KampusFiksi