Oleh : @SydelOne
Aku mencintainya, Kak. Pacarmu. Aku jatuh cinta
pada orang itu, dan aku harus memilikinya….
“Oh, Dad.. kau salah. Mereka salah. Aku tidak
genius. Aku juga tidak gila. Aku hanya sangat bodoh dan ceroboh.”
Ya. Tina merasa bodoh.
Jatuh cinta pada selembar foto. Tergila-gila pada tumpukan kartu dan kerinduan
yang terpahat di atasnya.
Curahan hati Miran memperkenalkannya
pada keindahan cinta. Keindahan yang tak pernah dirasakan nyata dalam rumah
mereka. Sekarang gadis itu duduk manis dalam pesawat menuju Frankfurt, Jerman.
Mengikuti gejolak penasaran yang merongrong jiwanya.
Maaf, Kak Miran. Kalau kau tidak suka, marahi saja aku
nanti. Tahun ini, aku akan sangat sibuk.
“Pertama-tama…, harus
belajar bahasa Jerman,” ia tersenyum menatap baris demi baris kata dalam
halaman kamus yang dipegangnya.
Untuk Miran-ku tersayang,
Aku
ada. Aku bertahan dari sesaknya kerinduan. Semua asaku, masih tertuju padamu. Guratan-guratan
cinta di hatiku, masih menuliskan namamu.
Di
mana kau? Apa kau baik-baik saja? Aku baik-baik saja.
Aku di
sini. Menunggumu. Hanya untukmu.
Demikian isi surat di atas
kartu yang Tina pegang. Ditulis dalam bahasa Jerman. Warna birunya sudah
memudar, seiring dibacanya surat itu berkali-kali.
“Kakak.. tega sekali. Membuatnya menunggu dalam
ketidakpastian,” katanya lirih.
Tina menyelipkan kartu tadi dalam buku
agendanya, menyimpannya dalam tas. Ia mengambil cangkir kopi di meja dan
menyesap isinya perlahan. Matanya mengerling. Tak dihiraukannya orang yang
lalu-lalang di sekitar. Pandangannya tertuju pada sosok pemuda yang datang dari
seberang jalan.
Paul Lee, 23 tahun. Seorang pemuda Korea
blaster Jerman. Ia sudah menjadi guru les Tina selama dua bulan ini. Pemuda itu
masuk dalam kafé dan menghampiri meja Tina. Menaruh ransel dan duduk. Ia tampak
kesal.
“Setiap kali selalu belajar di sini. Bagaimana
kau berkonsentrasi dengan suasana ribut begini?”
“Aku kan sudah bilang, kita belajar di tempatmu
saja. Kau sendiri yang tidak mau! Aku hanya menumpang di tempat kakakku. Dia
tidak suka aku membawa orang asing ke rumah,” gadis itu beralasan.
“Tapi dia baik-baik saja adiknya masuk rumah
orang asing? Benar-benar kakak yang aneh. Ya sudah, mana tugas yang kuberikan?
Apa ada kesulitan?”
Tina menyodorkan buku tulisnya. Ia ke dapur dan
kembali dengan minuman untuk Paul. Senyumnya mengembang lebar melihat ekspresi
serius pemuda itu. “Apa ada masalah?” tanyanya.
Pemuda itu menghela napas. Sebenarnya, ia tidak
suka mengajar Tina. Bukan apa-apa. Setiap kali mereka belajar, mahasiswi
tingkat 2 itu hanya bengong memandanginya. Ia merasa buang-buang waktu. Ya,
meskipun saat diuji, Tina menguasai semua materi yang diajarkannya. Gadis itu
menyenangkan untuk diajak berdiskusi, tapi bukan tipe anak yang butuh diajari. Jika
Tina bukan keponakan bosnya, ia tidak akan mau dibayar hanya untuk dipelototi.
“Masalahnya adalah, kau tidak punya masalah. Biasanya
mahasiswa yang mengajar les. Ini malah sebaliknya,” kata pemuda itu heran. “Kau
pintar. Bahasa Jerman-mu juga sudah lancar. Kau tidak perlu les, belajar
sendiri juga bisa.”
Tina memangku kepalanya dengan kedua tangan.
Agak jengkel. Setelah setahun ini kepalanya mengepul karena belajar siang dan
malam, Paul memujinya dengan wajah datar seperti itu. “Minum dulu tehnya.”
“Bagaimana kau tahu kalau aku tidak minum kopi?
Terima kasih.”
“Bagaimana kalau kita jalan-jalan? Ibuku yang minta
aku les, supaya aku tidak keluyuran. Jadi intinya, tujuan mereka membayarmu adalah
untuk membuatku terus sibuk. Bukan untuk belajar,” jelas Tina.
“Pasti kau nakal, makanya orangtuamu tidak
percaya,” komentar Paul.
“Ya, memang nakal. Aku jatuh cinta pada pacar
kakakku sendiri,” pandangan Tina menerawang langit. “Aku pasti akan
merebutnya!”
“Kau gila!” Paul mengernyit. “Pantas saja
orangtuamu khawatir.”
Tina terkikik geli. “Kau orang pertama di
Jerman yang mengatakannya. Sudah setahun aku tidak dengar orang mengatakan aku
gila. Ayo kita pergi!”
Paul ingin protes, tapi gadis itu sudah jauh
berlari. Ia meminum tehnya terburu-buru dan segera pergi menyusul.
Tina memperlambat langkahnya. Kadang berhenti.
Berputar pelan mengelilingi tiang lampu di trotoar. Matanya menelusur gedung-gedung
apartemen yang mereka lewati. Bangunan-bangunan itu tampak seperti pengawal yang bergandengan. Bertahan. Rapat. Rapi. Kokoh. Namun, klasik dan indah di
saat yang bersamaan. Dulu, Tina mengira gedung-gedung itu berhubungan dengan
tempat seni, museum atau sejenisnya. Ia agak terkejut saat mengetahui sebagian
besar merupakan gedung apartemen. Sebanyak itu, tetap saja, setengah mati
rasanya mencari tempat tinggal di kota ini.
Pandangannya beralih kembali pada sosok yang
berjalan mengikutinya. Sudah setahun tinggal di Jerman, baru 6 bulan yang lalu
ia menemukan Paul. Selama itu, mereka hanya bertemu sebagai pelayan kafé dan
keponakan bos. Ia senang sekali, akhirnya menemukan cara untuk lebih dekat
dengan pemuda itu.
“Kenapa kau senyum-senyum begitu? Apa ada
sesuatu di wajahku?” Paul jengkel. Ia segera sadar, lagi-lagi, gadis itu memperhatikan wajahnya.
“Aku suka matamu,” jawab Tina. Gadis itu
berhenti sejenak, agar dapat berjalan sejajar dengan Paul.
“Mataku?” Paul agak mendelik. Sejauh ini, biasanya orang lebih tertarik pada wajah Asia-nya. Matanya yang biru pucat menurun dari
ibunya. Tapi, mata biru sangat umum di Eropa. Tidak ada yang istimewa dengan
itu.
“Matamu sangat indah. Aku suka melihat orang
berdarah campuran. Mereka punya wajah unik.”
“Bukankah kau sendiri anak blasteran? Hm… maaf
kalau aku salah. Soalnya, kau orang Korea, tapi namamu Christina. Bahasa
Inggris-mu juga sangat fasih.”
Senyuman di wajah Tina menghilang. Berganti
dengan sorot luka. “Tidak ada yang percaya bahwa aku anak ibu. Karena namaku.
Ibu mau menggantinya, tapi aku tidak mau. Nama ini, satu-satunya yang
mengingatkan aku. Darah dad mengalir di tubuhku.”
Mereka berhenti di halte. Tina melihat jadwal bus
di papan, lalu duduk dengan tenang. Paul duduk di sampingnya. Ia merasa tidak
enak. Tidak yakin harus mengatakan apa untuk menghibur. Ia tidak pernah melihat
gadis tomboi itu semurung ini.
“Salju…! Salju pertama akhirnya turun!”
teriakan Tina menyentak lamunan Paul.
Paul hanya bengong. Sepertinya ia tidak perlu
khawatir lagi.
“Oh, the weather outside is
frightful. But the fire is so delightful. And since we've no place to go… let
it snow, let it snow, let it snow….” Tina bernyanyi
riang. Berdiri di trotoar. Ia tampak sangat bahagia saat bulir-bulir salju
menyentuh kulitnya. Begitu bahagia, sampai tidak peduli, orang-orang di halte
melihatnya dengan heran.
Bus datang, namun Tina masih asyik dengan
dunianya. Paul merasa sedikit lucu melihat tingkah gadis itu.
Seperti
anak-anak, matanya melebar senang melihat salju sedikit demi sedikit mewarnai
ranting pepohonan.
Tina menadahkan tangannya. Membiarkan kepingan-kepingan putih yang
halus itu memenuhi telapaknya. “Aku bertanya-tanya apakah salju mencintai
pepohonan dan ladang, hingga ia mengecup mereka begitu lembut? Dan kemudian
menutupi mereka dengan nyaman, kau tahu, dengan selimut putih; dan mungkin ia
mengatakan—”
“Pergilah tidur, sayang, hingga musim panas datang lagi,” Paul melanjutkan kata-katanya.
Tina menoleh kaget, “Kau juga membacanya?”
“Yeah, untuk adikku.”
“Waktu kecil, aku dan Dad
membaca bersama setiap hari Minggu. Oh, aku rindu sekali pada ayahku. Saat
musim dingin begini, saat hujan salju mulai turun… Dad akan mengambil gitarnya dan menyanyikan lagu Let It Snow! Sangat menyenangkan.”
***
Malam menjelang, namun Römerberg, Frankfurt, tidak
kekurangan cahaya. Weihnachtsmarkt
Frankfurt adalah salah satu tujuan wisata musim dingin yang terkenal di Jerman.
Dan sekarang, Tina dan Paul ada di tempat ini. Dikelilingi warna-warni Natal. Bermandikan cahaya lampu-lampu dan harum manisnya kue-kue.
Tina menarik napas dan menghembuskannya kuat-kuat.
Matanya berkilat-kilat. Bercahaya. Tak kalah dengan pohon Natal raksasa di
hadapannya. Bukan hanya itu, bangunan-bangunan yang memagari weihnachtsmarkt, stan-stan Natal, semua
berlomba menjadi yang paling cantik. Semua ingin jadi yang paling menarik.
“Aku harap, Kakak ada di sini.”
“Déjà vu…,” gumam Paul.
“Hah? Apa kau mengatakan sesuatu?”
Paul menggeleng. “Tidak. Bukan apa-apa. Ayo ke sana..!”
Paul sesekali melihat Tina. Ia yakin, pernah mengenal gadis itu. Bukan
hanya kali ini, Tina sering sekali membuatnya heran. Gadis itu tahu apa yang ia suka. Tahu
apa yang ia tidak suka. Tahu beberapa kebiasaannya. Seperti Miran. Tina selalu tahu bagaimana meluluhkannya.
“Aku harap, Christina ada di sini. Pasti menyenangkan…,” kata Miran
saat Natal tiga tahun lalu. Sambil menatap komidi putar. Tepat di tempat Tina berdiri
sekarang.
Sekali lagi diperhatikannya wajah Tina. Pemuda itu menepuk-nepuk pipi.
Segera menepis pikiran anehnya. “Christina.. mungkin karena namanya sama.
Mungkin aku terlalu merindukan Miran. Jangankan dengan Christina, adiknya,
dengan Miran pun tidak mirip sama sekali. Mana boleh aku membandingkan Miran
dengan anak hiperaktif itu! Bodohnya!”
Tina berbalik tiba-tiba. Ia berlari kecil menghampiri Paul. Ditariknya
pemuda itu naik komidi putar. “Ayo! Kau bicara pada siapa, sih?”
Salju turun. Angin membekukan malam. Mengiring puncak musim dingin. Namun anehnya, Tina dan Paul
merasa hangat. Tertawa dan bernyanyi riang. Tak terasa lagi perihnya tamparan angin. Hanya ada percikan semangat dan bahagia yang membungkusnya.
“Aku tidak percaya ini, aku hang out dengan anak kecil. Kalau Soora tahu, dia akan
menertawakanku.”
“Soora, teman Miran? Aku tidak suka padanya. Dia
itu rubah licik. Temanmu yang satunya juga. Dia genit,” Tina mengernyit.
“James? Hahaha..! Aku rasa dia menyukaimu. Mereka itu
seangkatan denganku, jadi masih seniormu. Sopanlah sedikit!”
“Maaf saja. Aku tidak melihat senior dari umur, tapi
dari sikap dan isi kepalanya.”
“Kalau Miran di sini, kalian pasti akan cocok. Kau masih
sangat muda, tapi menurutku, kau benar-benar teman yang cerdas dan menyenangkan.
Jarang ada anak perempuan sepertimu,” Paul tersenyum tulus.
“Paul Lee-ssi,
berhentilah memujiku.” Tina bicara dalam bahasa Korea. “Apa kau bisa
bertanggung jawab kalau aku jatuh cinta padamu? Karena aku menyukaimu. Bukan
tidak mungkin aku akan merasa lebih.”
Paul bengong. Mencoba mencerna kata-kata Tina. Saat tersadar,
gadis itu sudah tidak ada. Ia bergegas turun dari komidi putar. Teringat pesan
bosnya agar tidak melepaskan mata dari Tina. Pemuda itu mempercepat
langkah. Mengedar pandangan ke sekeliling dengan cemas.
“Apa boleh motifnya dicampur, Tuan? Aku mau beli mug-nya selusin.” Tina berdiri di sebuah stan yang menjual suvenir. Celingak-celinguk memilih barang yang diinginkannya.
Paul menarik napas lega. Ditariknya tangan gadis itu dengan gemas.“Jangan menghilang seperti
itu! Membuatku khawatir saja…”
Tina menatapnya lekat. Kedua alisnya naik. “Kalau aku menghilang seperti Miran, kau akan
khawatir?”
Ada apa denganku?
Harusnya aku marah! Kenapa jantungku berdetak sangat cepat? Tidak. Ini tidak benar! Paul mengalihkan matanya dari wajah Tina.
Tina terkekeh geli. “Hey! Apa kau benar-benar berpikir,
aku cukup bodoh untuk mengejar seseorang yang sudah punya pacar? Pacar setia yang keras kepala sepertimu pula!”
“Mungkin saja. Kau bahkan cukup gila untuk menyukai
pacar kakakmu sendiri,” komentarnya.
“Itu berbeda.
Kakakku.. dia sudah mati.”
“Apa? Maksudmu…. Hm, maaf, tadi aku hanya bercanda. Aku
tidak tahu. Aku turut berduka,” Paul kembali mengarahkan wajahnya pada Tina.
“Tolong, Paul, jangan turut berduka. Karena aku sama sekali
tidak berduka. Hh… kalau saja kau bukan pacar siapa-siapa, aku tidak perlu
repot begini. Mengejar hati yang berpenghuni.”
***
Natal segera datang. Akan jadi Natal kedua tanpa kehadiranmu. Aku
memimpikanmu semalam. Menatap matamu. Mencium wangi rambutmu. Namun tak kulihat
wajahmu.
Di mana kau? Aku rindu.
Apa kau baik-baik saja? Aku baik-baik saja, meski hatiku tidak.
Yang mencintaimu, Paul Lee
Paul menaruh kartunya dalam
kotak surat. Ia bergeming di depan apartemen itu. Berharap pintu terbuka dan
kekasih hatinya keluar dari sana. Namun tidak. Hanya hening yang datang
menyiksa batinnya.
Disentuhnya permukaan pintu. “Aku mencintaimu, Miran.
Aku sangat mencintaimu,” bisiknya. “Jika kau tidak lagi mencintai aku, tidak
apa-apa. Hanya, biarkan aku tahu, kau baik-baik saja.”
Di balik pintu, Tina hanya berdiri membatu. Sendirian dalam
kegelapan. Tangannya gemetar.
“Kalau aku mati, berikan surat itu padanya.” Suara Miran kembali
mengiang. Lirih. Rapuh. Bersama wajah yang basah sedu.
Kak…, kau bilang, kau
menyayangi aku apa adanya. Kau tidak akan membenciku apa pun yang kulakukan.
Begitu Paul pergi, Tina juga bersiap. Ponsel, laptop, buku agenda, dompet,
kacamata dan satu strip obat mag masuk dalam tas selempangnya. Ia membuka pintu
dengan tergesa. Hampir melompat.
“Agassi? Ya ampun! Aku kira ada maling. Kau ke mana saja? Kau tinggal di
mana? Nyonya khawatir terus.”
“Sialan! Aku kira Paul,” desis Tina. Ia mendelik jengkel pada wanita
paruh baya di hadapannya. “Bilang pada Aunt
dan Uncle, aku baik-baik saja.”
“Dokter Shin datang mencarimu. Dia ada di rumah. Aku harus bilang
apa padanya?”
“Hah?! Jangan bilang, Mom….
Arghh!! Aku sudah menghilang ke sini, dan mereka masih saja menggangguku?! Brengsek
kalian semua!” Tina melewati wanita itu. Mengambil isi kotak surat dan pergi
begitu saja.
Kurang dari sejam, Tina sampai di kafé. Paul masih bekerja. Ia duduk
di sudut dekat pintu menuju dapur, tempat favoritnya. Membuka laptop dan mulai
tenggelam dalam kesibukannya sendiri.
“Kau bisa bahasa Perancis?”
“Ha?” Tina terkesiap, Paul menaruh secangkir kopi dekat kotak
kacamata dan duduk di sampingnya. “Bisa sedikit.”
“Kelihatannya sangat banyak,” komentar pemuda itu. Melirik jumlah
halaman yang tertera di pojok layar.
“Ini… aku membantu juniorku di Korea, membuat esai untuk pelajaran
bahasa Perancis.”
“Itu curang namanya. Kau membuatnya bodoh, kau tahu.”
“Yeah.. benar. Tapi aku
dapat banyak uang berkat kebodohan mereka,” Tina meminum kopinya.
“Aku penasaran, siapa kau sebenarnya? Mengambil jurusan Science, tapi tertarik pada bahasa,
sastra, komputer, sosial…”
“Aku tidak bisa menjelaskan diriku, aku takut, Tuan. Karena aku
bukan diriku yang kau lihat,” jawabnya sambil tersenyum datar. “Boleh aku minta air mineral?”
“Sparkling water?”
“Tidak, tolong, air biasa saja. Aku mau minum obat. Sebenarnya manis,
ini obat mag, tapi aku tidak suka rasanya menempel di lidahku,” jelas gadis
itu.
Paul tertegun. Menatap kemilau warna hazel di balik kacamata itu. Ini pertama kali dilihatnya. Biasanya
gadis itu memakai softlenses, bukan
kacamata.
Tina tersadar, pemuda itu sedang memperhatikan matanya.
Ia buru-buru mengalihkan pandangannya ke layar laptop.
“Sebentar, aku ambil air untukmu.”
Tina melihat jam di desktop.
Seharusnya, surat yang dikirimnya sudah sampai.
Sebentar saja Paul sudah
kembali. “Sebaiknya kurangi minum kopi. Itu tidak bagus untuk
lambung,” katanya.
“Terima kasih,” Tina hanya mengangguk. Ia hampir
tersedak mendengar bunyi ponsel Paul.
“Sebentar…,” Paul menerima telepon yang masuk. “Ya, Bu?”
Maafkan aku, Kak.
Aku tidak bermaksud menyumpahi atau mengutukmu. Hanya…, ini satu-satunya cara untuk masuk
dalam hatinya. Dengan menyingkirkanmu. Tina meremas
jemarinya yang gemetaran. Menatap Paul dengan takut-takut.
“Apa Miran sendiri yang mengantarnya? Hm.. tolong tahan
anak itu, Bu. Aku segera pulang.”
“Ada apa?” tanya Tina datar.
“Aku harus pulang. Bos sedang keluar, bisa mintakan izin
untukku? Aku benar-benar harus pulang!” Paul tampak sangat gusar.
“Kalau begitu pulanglah. Soal izin, serahkan padaku.”
“Terima kasih, Tina. Aku berhutang padamu. Minggu nanti,
aku akan menemanimu jalan-jalan sampai kau puas,” katanya bersemangat.
Tina mengangguk. Hanya diam memperhatikan pemuda itu
pergi.
“Tidak. Akulah yang berhutang padamu. Hutang maaf yang
tak akan pernah bisa kuucapkan,” gumam Tina lirih.
Catatan : Dibuat untuk memenuhi tantangan menulis @KampusFiksi #KisahEmpatMusim #WinterStory